Sudut Kreatif

Sunday, August 21, 2011

SISIPKAN KALAHARI DIRI SELAIN DUNIA



Dalam kehidupan yang semakin mencabar ini, keindahanlah yang akan mententeramkan jiwa manusia. Kepalsuan dan pembohongan menjadi buah mulut setiap insane walaupun mengenali apa itu al-Haq. Umpama perjalanan yang jauh yang tak bisa dimengertikan pada suatu arah mana yang hendak dilalui. Jiwa-jiwa kebaikan semakin pupus.

Laungan keadilan yang sering bertukar ganti tidak seiring dengan perbuatan. Menjadi munafiq kepada diri sendiri.  Betullah kata-kata Sayyidul Syuhada Imam Husain as, Manusia setiap hari bertaubat dan menyesali setiap perbuatan jahat yang dilakukan, namun pada keesokan harinya kembali melakukan perkara yang sama, dan pada malamnya bertaubat kembali. Maksudnya hanya bibir yang melafazkan namun hati masih tersasar jauh dan tidak menyesali apapun.

Teringat satu kata-kata penyair Hujatul islam Hafiz Syirazi seorang sufi, “Engkau telah jatuh cinta, sehingga membuatmu menjadi lupa diri, dan telah cukup lama engkau berada di rumah cinta dalam kebingungan.”
Inilah, kehidupan yang begitu sukar untuk keluar menjadi ‘manusia’ sebenar sepertimana yang telah dilalui oleh manusia-manusia suci utusan Ilahi. Tidak berupaya menggapai hikmah-hikmah yang akan dikurniakan oleh-Nya karena tewas dalam pelukan nafsu sendiri. Hanya kata-kata perangsang yang bisa menyelamatkan. Dengan menggunakan sedikit akal yang dikurniakan pasti kita akan terselamat. Ingatlah, Jangan pernah meninggalkan bahtera Nuh, Yakni jangan lupa untuk senantiasa bersama dan bergaul dengan orang yang bertakwa dan taat beribadah. Jika tak seperti itu, maka apa yang dicita-citakan akan hancur berantakan. Dan kita akan dibinasakan oleh berbagai bencana kehidupan, sadarlah wahai kawan!

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan kepada semua umat manusia sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” – QS Saba’ ayat 28.

Malam-malam yang sunyi dan bening senantiasa dihabiskan dengan pelbagai ketidakmunafaatan. Beriadah mengikuti hawa nafsu kejahatan dan terus berlatih dalam jiwa agar menjauhkan diri dari pelbagai harakah kebaikan. Apa yang hendak dibanggakan jika kita tidak mahu berusaha menggapai Dia yang maha Kuasa di atas segala sesuatu. Rasulullah SAWW bersabda,” Kematian itu sudah cukup untuk memberikan peringatan kepada orang; akal itu sudah cukup untuk seorang penunjuk jalan; ketakwaan itu sudah cukup sebagai ketentuan; ibadah itu sudah cukup sebagai pekerjaan; Tuhan itu sudah cukup sebagai kawan dekat; Al-Quran itu sudah cukup sebagai penjelasan.”

Apa mungkin ada lafaz yang terbaik yang pernah kita dengar dan ikuti selain sabda Nabi SAWW di atas? Nabi Nuh AS bersabda.” Aku dapati dunia ini bagaikan sebuah rumah dengan dua pintu. Aku masuk melalui salah satu pintu dan keluar melalui pintu yang lain.” Begitulah keadaan orang yang diselamatkan oleh Allah, lalu bagaimana keadaan orang yang merasa senang di dunia ini, bergantung padanya, menyia-nyiakan hidupnya dengan menggalinya, dan dipenuhi oleh tuntutan-tuntutan duniawi?

Seorang penyair mengatakan.” Lama berdoa keinsafan sering menghisab kesalahan, namun Kristal yang penuh lendir fatamorgana menelusuri kembali ke lembah noda.”
Inilah yang aku sering tertanya, sampai bila aku dapat bertahan dengan akal yang seringkali tertewas melawan hawa nafsu yang meracun terus kehidupan. Adakalanya tidak terpandang dan tak terjangkau. Berharap dan akan terus menilai setiap permasaalahan kehidupan, muga dinampakkan segala keburukan diri. Dn terus berpaut pada tali yang terentang di antara langit dan bumi.

Teruskan tangisan buat Imam Husain as Sang Pemuka Surga, karena di situ terdapat sedikit kelestarian agama kita yang akan terus memimpin jiwa agar mencintai Allah dan rasul-Nya. Di sinilah kehidupan itu bermula. Ianya terletak pada hati dan kasih sayang buat keluarga Nabi. Paling mudah dan paling terindah jalan yang akan mendamaikan keseluruhan jiwa manusia.

“Ya Allah, janganlah sekali-kali Engkau cabut kebaikan yang telah Engkau kurniakan kepadaku. Ya Allah, janganlah sekali-kali Engkau melegakan hati musuh dan orang yang hasad atas bencana yang menimpaku. Ya Allah, janganlah sekali-kali Engkau masukkan aku ke dalam keburukan yang telah Engkau selamatkan aku darinya. Ya Allah, janganlah sekejap pun Engkau menyerahkan urusanku kepada diriku.”