Sudut Kreatif

Monday, January 19, 2009

Bual-bual Kosong-


Selama saya tinggal di Syiria bertemu dengan Syeikh Abdul Qadir al-Arnauthi, salah seorang ulama Syiria. Dia mempunyai ijazah di dalam ilmu hadits.


Pertemuan ini berlangsung dengan tanpa persiap-an dari saya, melainkan terjadi dengan tanpa disengaja.


Saya mempunyai seorang teman dari Sudan yang bernama Adil. Saya mengenalnya di kawasan Sayyidah Zainab As, dan Allah Swt telah menerangi hatinya dengan cahaya Ahlul Bait As. Teman saya ini memiliki sifat-sifat terpuji yang jarang ditemukan pada yang lainnya. Dia seorang yang berakhlak, taat beragama dan warak. Keadaan telah memaksanya untuk bekerja di sebuah ladang di kawasan yang bernama “Adliyyah”, kurang lebih berjarak sembilan kilometer sebelah selatan kawasan Sayyidah Zainab As. Di sebelah ladang tempat dia bekerja terdapat ladang lain milik seorang laki-laki tua yang dipanggil dengan sebutan Abu Sulaiman.


Ketika tetangga ini tahu bahwa orang Sudan yang bekerja di ladang sebelahnya itu orang Syi’ah, dia datang dan berbicara kepadanya. Tetangga itu berkata,


“Wahai saudaraku, orang-orang Sudan itu orang Ahlus Sunnah yang baik, lantas dari mana kamu menjadi Syi’ah?! Apakah di keluargamu ada orang yang bermahzab Syi’ah?”


Adil menjawab, “Tidak, namun agama dan keyakinan tidak dibangun di atas dasar taklid kepada masyarakat dan keluarga.”


Tetangga itu berkata, “Sesungguhnya Syi’ah itu menipu dan membohongi masyarakat.”


Adil menjawab, “Saya tidak melihat yang demikian itu dari mereka.”


Tetangga itu berkata lagi, “Benar, kami mengenal mereka dengan baik.”


Adil berkata, “Wahai haji, apakah Anda percaya pada Bukhari dan Muslim dan kitab-kitab sahih yang enam?”


Tetangga itu berkata, “Tentu.”


Adil berkata lagi, “Sesungguhnya Syi’ah berargu-mentasi atas berbagai keyakinan yang mereka yakini dengan menggunakan sumber-sumber ini, apalagi sumber-sumber mereka.”


Tetangga itu berkata, “Mereka itu berdusta. Mereka mempunyai sahih Bukhari dan Muslim yang telah diselewengkan.”


Adil menjawab, “Mereka tidak mengharuskan saya dengan kitab tertentu, melainkan mereka meminta saya untuk mencarinya di perpustakaan menapun di dunia Arab.”


Tetangga itu berkata, “ini bohong, saya wajib mengembalikan Anda ke dalam Ahlus Sunnah. Karena Rasulullah Saw telah bersabda, ‘Jika Allah memberikan petunjuk kepada seorang laki-laki dengan perantaraanmu maka yang demikian itu lebih baik bagi-mu dibandingkan matahari bersinar kepadanya.’”


Adil berkata, “Kita ini pencari kebenaran dan petunjuk, kita akan condong bersama argumentasi ke mana pun argimentasi itu condong.”


Tetangga itu berkata, “Saya akan mendatangkan kepadamu ulama terbesar di kota Damaskus. Yaitu ‘Allamah Abdul Qadir al-Arnauthi, seorang ulama terpandang dan ahli hadits yang hafal Al-Qur’an. Orang-orang Syi’ah telah berusaha membujuknya dengan wang berjuta-juta supaya dia bersama mereka, namun dia menolaknya.”


Teman saya Adil menyetujui rencana ini. Abu Sulaiman berkata kepadanya, “janji kita pada hari Senin, Anda dan orang-orang Sudan lainnya yang terpengaruh pikiran Syi’ah silahkan datang.”


Adil datang kepada saya. Dia mengabarkan apa yang telah terjadi, dan meminta saya untuk pergi bersamanya. Dengan sangat senang saya menerima tawaran itu. Saya janji akan pergi bersamanya pada hari Senin tanggal 8 Safar 1417 Hijrah, tepat jam 12 siang.


Hari itu adalah hari yang sangat panas. Kami berkumpul di tempat yang telah dijanjikan, dan kemudian kami bertolak ke ladang bersama tiga orang Sudan lainnya. Setelah kami sampai, teman kami Adilm menyambut kami di ladang yang hijau yang dipenuhi dengan berbagai pohon buah-buahan, seperti murbaei, persik, apel, dan buah-buahan lainnya yang tidak terdapat di Negara kami Sudan.


Setelah itu kami pun tergesa-gesa menuju ladang tetangganya yang Ahlus Sunnah itu. Tetangga itu menyambut kami dengan kasar. Setelah beristirahat sejenak di tempat yang dikelilingi sayur-sayuran itu, saya berdiri untuk mengerjakan shalat Zuhur. Pada saat saya mengerjakan shalat Zuhur tibalah rom-bongan yang membawa Syeikh al-Arnauthi. Ruangan bangunan telah dipenuhi oleh manusia sementara ba-gian luarnya telah dipenuhi oleh mobil. Kebingungan melanda wajah teman-teman saya, dikarenakan kedu-dukan yang sedemikian tingginya. Karena mereka ti-dak mengira urusan ini sedemikian besarnya. Setelah masing-masing menempati tempatnya, saya memilih tempat di sebelah Syeikh.


Setelah berlangsung acara perkenalan di antara semua, pemilik ladang berkata pada Syeikh, “Mereka ini adalah saudara-saudara kita dari Sudan. Mereka telah terpengaruh Syi’ah di kawasan Sayyidah Zainab. Di antara mereka ada seorang Syi’ah yang bekerja di ladang sebelah kami.”


Syeikh itu berkata, “Mana yang Syi’ah itu?”


Mereka menjawab, “Pergi ke ladangnya, dan nanti akan kembali tidak lama lagi.”


Syeikh berkata, “Kalau begitu kita tunda pembicaraan ini hingga dia kembali.”


Salah seorang Sudan pergi mencarinya dan kemu-dian membawanya ke majlis. Syeikh memanfaatkan kesempatan ini untuk membacakan banyak hadits yang dia hafal di luar kepala. Adapun tema hadits-hadits yang dibacakannya itu ialah berkenaan dengan keutamaan sebagian negeri atas sebagian negeri yang lain, khususnya yang berkenaan dengan negeri Syiria dan kota Damaskus. Tema ini telah memakan waktu sekitar setengah jam. Sebuah tema yang tdak ada fai-dahnya. Saya sangat heran kenapa dia tidak meman-faatkan kesempatan ini, padahal semua yang hadir te-lah menajamkan pikiran mereka untuk mendengarkan hadits-hadits yang dapat mereka manfaatkan di dalam agama dan dunia mereka.


Kemudian dia berkata, “Sesungguhnya agama Allah tidak diambil berdasarkan nasab dan keturunan. Allah Swt telah menjadikan agamanya untuk semua manusia, lalu dengan hak apa kita mengambil agama dari Ahlul Bait?! Rasulullah Saw telah memerintahkan kita untuk berpegang teguh kepada Kitab Allah dan sunahnya. Hadits ini adalah hadits yang sahih yang tidak ada seorang pun yang mampu mendhaifkannya, dan tidak ada jalan lain selain jalan ini.”

Kemudian dia menepukkan tangannya kepunggung Adil sambil ber-kata kepadanya, “Wahai anakku, jangan sampai perkataan Syi’ah dapat menipumu.”


Saya memotong pembicarannya dengan mengatakan, “Yang mulia Syeikh, kami adalah pencari kebe-naran, dan kini perkara telah bercampur sedemikian rupa sehingga membingungkan kami, oleh karena itu kami dating kepada Anda supaya dapat mengambil manfaat dari Anda manakala kami mengetahui Anda seorang ulama besar, ahli hadits dan hafidz.”


Syeikh itu menjawab, “Itu benar.”


Saya berkata lagi, “Sudah merupaka sesuatu yang tidak diragukan lagi bahwa kaum Muslimin telah terbagi ke dalam beberapa golongan dan mahzab, dan masing-masing golongan mengklaim bahwa dirinyalah yang benar sementara yang lainnya salah. Apa yang harus saya lakukan sementara saya diwajibkan oleh agama Allah untuk mengetahui kebenaran diantara jalan-jalan yang saling bertentangan itu?! Apakah Allah menghendaki kita berpecah-belah atau mengingi-nkan kita berada pada satu agama, iaitu kita menyembah Allah dengan agama yang satu?! Jika ya, lantas jaminan apa yang telah ditinggalkan oleh Allah dan Rasul-Nya untuk kita supaya umat terjaga dari kesesatan?


Sebagaimana yang kita ketahui bahwa perselisihan pertama yang terjadi di antara kaum Muslimin adalah perselisihan yang terjadi secara langsung setelah Rasulullah Saw wafat, padahal Rasulullah Saw tidak mungkin meninggalkan umatnya tanpa ada petunjuk.”


Syeikh berkata, “Sesungguhnya jaminan yang telah ditinggalkan oleh Rasulullah Saw untuk mencegah umat dari perselisihan ialah sabdanya yang berbunyi, ‘Sesungguhnya aku tinggalkan sesuatu kepadamu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan tersesat, yaitu Kitab Allah dan sunah.’”


Saya berkata, “Beberapa saat yang lalu Anda menyebutkan terkadang ada sebuah hadits yang yang tidak ada sumbernya, artinya tidak disebut di dalam kitab-kitab hadits.”


Syeikh menjawab, “Itu benar.”


Saya katakan kepadanya, “Hadits ini tidak memiliki sumber di dalam kitab-kitab sahih yang enam, lantas kenapa Anda menyebutkannya, sementara Anda seorang muhaddis?”


Di sini, bangkitlah kemarahan Syeikh, lalu dia berteriak lantang, “Apa yang Anda maksud, apakah Anda ingin mendhaifkan hadits ini?”


Saya merasa heran kenapa Syeikh sedemikian marah padahal saya tidak mengatakan apa-apa.


Saya berkata, “Sabar, sesungguhnya pertanyaan saya hanya satu, iaitu pakah hadits ini terdapat di dalam kitab sahih yang enam?”


Syeikh itu menjawab, “Kitab sahih itu tidak hanya enam. Kitab hadits itu banyak sekali. Hadits ini terdapat di dalam kitab al-Muwaththa Imam Malik.”


Saya berkata dengan menghadap kepada para hadirin, “Baik, Syeikh telah mengakui bahwa hadits ini tidak terdapat di dalam kitab-kitab sahih yang enam, dan hanya terdapat di dalam kitab al-Muwaththa Imam Malik.”


Dengan nada tinggi dia memotong pembicaraan saya dengan mengatakan, “Lalu, apakah kitab al-Mu-waththa bukan kitab hadits?”


Saya menjawab, “Kitab al-Muwaththa kitab hadits, namun hadits ‘Kitab Allah dan sunahku’ adalah marfu’ dengan tanpa sanad, padahal diketahui bahwa semua hadits yang terdapat di dalam kitab al-Muwaththa bersanad.”


Di sini Syeikh berteriak setelah hujjahnya patah. Dia mulai memukul saya dengan tangannya dan menggerak-gerakkan tubuh saya ke kanan dan ke kiri sambil berkata, “Anda ingin mendhaifkan hadits ini, padahal Anda ini siapa sehingga hendak mendhaif-kannya.” Dia tidak dapat mengontrol emosinya sehing-ga tindak-tanduknya telah keluar dari batas-batas ya-ng wajar. Seluruh orang yang hadir merasa heran dengan gerak dan tingkah lakunya.


Saya berkata, “Ya Syeikh, di sini tempat diskusi dan dalil, dan cara ini tidak layak untuk diikuti. Saya telah duduk dengan banyak ulama Syi’ah namun saya tidak pernah melihat sama sekali cara yang seerti ini.”


Allah Swt berfirman, ‘Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.’


Setelah itu, dia sedikit reda dari kemarahannya.Saya berkata, “Ya Syeikh, saya bertanya kepada Anda apakah riwayat Malik terhadap hadits ‘Kitab Allah dan sunahku’ di dalam kitab al-Muwaththa itu dhaif atau sahih?!”


Dengan penuh berat hati Syeikh menjawab, “Dhaif.”


Saya berkata, “Jika demikian, kenapa Anda mengatakan hadits tersebut ada di dalam kitab al-Muwaththa padahal Anda tahu hadits tersebut dhaif?”


Dengan nada tinggi Syeikh menjawab, “Sesungguhnya hadits tersebut mempunyai jalan-jalan yang lain.”


Saya berkata kepada orang-orang yang hadir, “Syeikh telah melepaskan riwayat al-Muwaththa, dan mengatakan bahwa hadits ini mempunyai jalan-jalan yang lain, maka marilah kita mendengarkan jalan-jalan itu darinya.”


Di sini Syeikh merasa malu, karena sebenarnya tidak ada jalan yang sahih yang dimiliki hadits ini. Pada saat itu tiba-tiba salah seorang hadirin yang duduk berbicara, lalu Syeikh menepuk saya dan berkata sambil menunjuk kepada orang yang berbicara, “Dengarkan dia.” Saya tahu dia ingin lari dari pertanyaan sulit yang saya lontarkan kepadanya. Saya merasakan itu darinya, namun saya tetap bersikeras dan berkata, “Ya Syeikh, sebutkanlah kepada kami jalan-jalan lain yang dimiliki hadits ini!”


Dengan nada putus asa Syeikh menjawab, “Saya tidak hafal, dan saya akan menuliskannya untuk Anda.”


Saya berkata, “Subhanallah! Anda hafal seluruh hadits-hadits ini, hadits-hadits tentang keutamaan negeri-negeri, namun tidak hafal jalan hadits terpenting yang merupakan pilar utama mahzab Ahlus Sunnah wal Jamaah, yang menjaga umat dari kesesatan, sebagaimana yang telah Anda katakan.”


Mendengar itu Syeikh terdiam seribu bahasa.Ketika para hadirin merasakan ras malu Syeikh, salah seorang dari mereka berkata kepada saya, “Apa yang Anda inginkan dari Syeikh, padahal Syeikh telah berjanji akan menuliskannya untuk Anda.”Saya berkata, “Saya akan coba dekatkan jalan untuk Anda. Sesungguhnya hadits ini juga terdapat di dalam kitab Sirah Ibnu Hisyam dengan tanpa sanad.”


Syeikh al-Arnauthi berkata, “Sirah Ibnu Hisyam adalah kitab sejarah, bukan kitab hadits.


Saya berkata, “Kalau begitu berarti Anda men-dhaifkan riwayat ini.”


Syeikh al-Arnauthi menjawab, “Ya.”


Saya berkata, “Anda telah membantu saya menyelesaikan diskusi ini.”


Kemudian saya meneruskan perkataan saya dengan mengatakan, “Hadits ini juga terdapat di dalam kitab al-Ilma’ karya Qadhi ‘Iyadh, dan kitab al-Faqih al-Mutafaqqih karya Khatib al-Bagdadi, apakah Anda mengambil riwayat-riwayat ini?”


Syeikh menjawab, “Tidak.”


Saya berkata, “Jika demikian, maka hadits ‘Kitab Allah dan sunahku’ itu dhaif menurut kesaksian Syeikh, dan tidak ada jaminan lain di hadapan kita kecuali satu jaminan yang akan mencegah umat dari perselisihan, iaitu hadits mutawatir dari Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh kitab-kitab hadits Ahlus Sunnah wal Jamaah dan kitab-kitab sahih yang enam selain Bukhari, yaitu sabda Rasulullah Saw yang berbunyi,

“Aku tinggalkan dua perkara yang sangat ber-harga, yang jika kamu berpegang teguh kepada keduanya niscaya kamu tidak akan tersesat sepeninggalku, iaitu Kitab Allah, yang merupakan tali yang terbentang di antara langit dan bumi, dan ‘Itrah Ahlul Baitku. Sesungguhnya Zat Yang Maha Mengetahui telah memberitahukanku bahwa keduanya tidak akan berpisah sehingga mendatangiku di telaga (al-Haudh).”


Sebagaimana yang terdapat di dalam riwayat Ahmad bin Hanbal. Tidak ada alternatif lain bagi seorang Mukmin yang menginginkan Islam sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah Swt dan Rasul-Nya selain dari jalan ini. iaitu jalan Ahlul Bait yang mereka telah disucikan di dalam al-Qur’an al-Karim dari segala dosa dan kotoran. Dan kemudian saya menyebutkan sekumpulan keutamaan-keutamaan Ahlul Bait As. Tidak sebagaimana biasanya, Syeikh terdiam tidak mengatakan satu patah kata pun selama saya berbicara.


Ketika murid-murid Syeikh melihat kekalahan di wajah gurunya mereka pun membuat kegaduhan dengan berteriak-teriak.Saya berkata, “Sungguh merupakan dajjal, kemunafikan dan penghindaran dari kebenaran. Sampai bila pengingkaran ini akan terus berlangsung?! Kebenaran jelas ayat-ayatnya, tampak kelihatan penjelasan-penjelasannya, dan saya telah menegakan hujjah atas Anda bahwa tidak ada agama selain dari Kitab Allah dan ‘Itrah Rasulullah Saw yang suci.”


Syeikh diam tidak membantah sedikit pun apa yang saya katakan. Tiba-tiba dia berdiri sambil berkata, “Saya ingin pergi, saya punya tugas mengajar”, padahal dia tahu bahwa dia diundang untuk makan siang!!


Tuan rumah memaksa dia untuk tetap tinggal, dan setelah makanan disajikan suasana majlis pun menjadi tenang, dan Syeikh tidak mengatakan sepatah kata apa pun selama menyantap makanan, padahal sebelumnya dia yang menguasai majlis dan pembicaraan.


Demikianlah nasib setiap orang yang menghindari dan menyembunyikan kebenaran. Mau tak mau pasti akan teringkap di hadapan orang banyak.