Sudut Kreatif

Saturday, January 31, 2009

Orang Kemaman boikot tak?


Berapa ramai yang boikot barangan Israel dan Amerika? Itulah pertanyaan yang berlegar2 dalam kepala aku kini. Berapa ramai yang sedar akan hal ini. Atau sedar namun tak mampu berbuat apa2.(mustahil) atau ambik mudah dan tiada kesan di dalam jiwa tentang ilmu2 dalam jiwa ini.


Sudah sebulan lebih peristiwa pembantaian rakyat Gaza berlalu. Kita boleh lihat di dalam pasaraya2 orang ramai bepusu-pusu untuk membeli keperluan harian setelah dapat gaji. Melewati setiap rak2 yang terdapat di dalam pasaraya tersebut kita maseh boleh lihat lagi longgokan2 produk2 yang kita bencikan itu. Milo, kotex, Huggies, kit kat, nescafe dan macam2 produk2 ini maseh tersusun kemas. Bukan nak salahkan penjual barangan namun yang saya fikirkan kalau saya ada pasaraya yang besar saya akan tahan semua produk zionis ini.


Kesiankan, untuk diri kita juga dan yang lebih kesian lagi, kerajaan langsung tak war-warkan pemboikotan ini. Pemboikotan untuk selamanya dalam jiwa rakyat Malaysia. Orang kata apa akan jadi kalau kita boikot barang mereka ini, bagaimana kawan2 dan sahabat handai kita yang bekerja di sana? ini melibatkan banyak pihak.


Betul, itu pon salah satu penyebab kenapa kerajaan tak tinggikan isu ini. Kerna ia maseh berpeluang menyediakan pekerjaan untuk rakyat. Dan, pernahkah anda mendengar ungkapan "berkorban apa saja, harta atau pon nyawa, itulah kaseh mesra.. sejati yang mulia" lagu Allayarham Doktor Tan sri P. Ramlee (semoga Allah mengampuni dosa anda) ? Apa definasi yang boleh kita kaitkan dengan ungkapan tersebut?


Wahai anak2 Malaysia, bangunlah, bersemangatlah, dan hidupkan kecintaan yang mendalam pada agama. Kerna kecintaan kita ini pasti beroleh ketenangan di sisi-Nya. Inilah kurniaannya Agama. Untuk kita pupukkan nilai2 murni yang akan membawa kita terus menuju ke rumah yang telah Dia janjikan.


Salamz kegigihan untuk yang terus memboikot!!

Friday, January 30, 2009

Thank You for Boycotting BBC-Samantha Morton


Thank you Samantha Morton, Peter Mullan, Tam Dean Burn, Alison Peebles and Pauline Goldsmith for boycotting BBC. Humanity knows no boundaries.

Press Association 27/1/09 reporterd, Samantha said she'll never work for the BBC again if the Corporation fails to broadcast an emergency appeal for help in Gaza.

The 31-year-old actress - a Golden Globe winner and Oscar nominee - led a string of celebrities at a London fundraiser for the British Aid Agency Medical Aid for Palestinians (MAP).


The Longford actress said she was embarrassed to earn money from a corporation that would take such an "horrific" and "disgusting" decision.


She said she wanted to know how the appeal by the Disasters Emergency Committee (DEC) was different to Comic Relief or Children in Need.


"I'm shocked and appalled," said the star. "I've worked for the BBC since I was a small child. As a public service they've got it very wrong. I'm not as articulate about this as I would like to be because I'm so appalled. I will never work for the BBC again unless they change their mind."


She went on: "It's very, very wrong. It's not a political message. It's about raising money for children who are dying."


I'm proud to have worked for the BBC; I'm proud to be British; I'm proud we even have the BBC. But I need them to explain this decision. I reserve the right never to work for that company again if I feel that I'm too embarrassed to support them or earn money from them."


The actress was speaking at a charity dinner organised by MAP at the Marriott Grosvenor House Hotel on Park Lane.

Tuesday, January 27, 2009

rose up against



Antoine Bara adalah seorang Kristen yang sejak mudanya melakukan penelitian atas kehidupan dan perjuangan Imam Husein as.Penelitiannya kemudian dibukukan dan ditulis berdasarkan Injil dan ucapan-ucapan Isa as. Sebuah buku yang sulit dicari bandingannya karena ditulis oleh seorang Kristen. Ia kemudian memberikan nama bukunya “Al-Husein fi al-Fikr al-Masihi” (Husein as menurut seorang Kristen).

Antoine Bara dalam bukunya menekankan tiga sisi penelitian, sastra dan emosional. Ia berhasil menggabungkan pandangan Islam dan Kristen dengan sangat baik. Ia membuat perbandingan antara kehidupan dan kesyahidan Isa as dan kehidupan dan kesahidan Imam Husein as. Analisa yang dilakukannya terkadang sampai pada titik di mana ia benar-benar menuangkan kreativitasnya. Usaha ini perlu diacungi jempol oleh seorang muslim yang obyektif dan perlu dibaca.

Buku “Husein as menurut seorang Kristen” untuk pertama kalinya dicetak pada tahun 1978. Dan beberapa kali naik cetak yang disertai dengan tambahan-tambahan darinya. Cetakan ke empat buku ini beberapa bulan yang lalu telah dicetak. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam 17 bahasa dan di 5 universitas sebagai buku pegangan di tingkat pasca sarjana dan doktor.

Antoine Bara adalah keturunan Suriah yang memiliki warga negara Kuwait dan tinggal di sana. Ia dikenal sebagai seorang penulis sastra yang memiliki genre penulisan tersendiri. Sampai saat ini kurang lebih ada 15 jilid buku yang telah ditulisnya yang isinya kebanyakan berbicara tentang roman dan sastra. Sampai saat ini ia masih berprofesi sebagai wartawan dan saat ini adalah tahun ke 41 ia menekuni profesinya. Tulisan-tulisannya banyak mengiasi media-media terkenal.

Saat ini ia adalah pimpinan redaksi majalah mingguan Al-Hawadits Network Kuwait.
Untuk pertama kalinya pada minggu kemarin ia menginjakkan kakinya ke Iran. Ia datang ke Iran memenuhi undangan untuk menghadiri konferensi Internasional Allamah Bahrani yang ke dua (15-17 Januari 2007). Koran Kayhan segera menangkap kesempatan emas ini dengan mengajaknya melihat gedung Kayhan sekaligus mewawancarainya.

Ia bersama istrinya melihat aktivitas di Kayhan. Wawancara yang semulanya direncanakan singkat ternyata molor hingga tiga jam. Hal itu karena Bara tidak sungkan-sungkan dalam menjawab pertanyaan yang dilontarkan. Semua dijawab dengan kesederhanaan dan terbuka.
Pandangan-pandangannya tentang Imam Husein as membuat dia sering disebut sebagai Kristen Syi’ah. Seorang Kristen yang bermazhab Syi’ah. Menurut Bara, Syi’ah adalah puncak dari rasa cinta ilahi. Ia menegaskan bahwa Imam Husein as tidak hanya milik Syi’ah atau kaum muslimin, tapi Husein milik dunia.
Ia menyebutkan bahwa sampai saat ini telah membaca Nahjul Balaghah sebanyak 25 kali secara sempurna. Setiap kali ia membaca, selalu saja ia menemukan poin-poin baru.
Pada akhir dari tanya jawab itu, ia mengucapkan sebuah kalimat yang luar biasa. Dengan penuh perasaan ia berkata: “Husein berada dalam hati saya”.

Soal: Sebagai pertanyaan pembuka, sudikah Anda menceritakan tentang keluarga, kehidupan, pendidikan dan aktivitas sosial Anda?

AB: Saya Antoine Bara. Lahir di Suriah pada tahun 1943. Saya memiliki empat orang saudara laki-laki dan tiga orang saudara perempuan. Saya dikaruniai empat orang anak; Talal, Maryam, Feisal dan Yusuf. Kakek-kakek saya aslinya dari daerah Najd Arab Saudi. Sejak lama mereka kemudian pindah ke suriah (Syam dahulunya). Keluarga saya berasal dari kalangan menengah. Kebanyakan keluarga saya memilih profesi sebagai tukang kayu dan pembuat alat-alat yang diperlukan oleh para petani. Saya mulai masuk sekolah SD pada sebuah sekolah swasta yang dimiliki oleh orang-orang Kristen. Setelah menamatkan SD, bersama saudara saya Habib, kami melanjutkan ke sekolah pemerintah. Kami termasuk orang Kristen pertama yang sekolah di sana. Selama ini hanya pelajar muslim yang belajar di sana.

Pertemuan pertama pelajaran agama Islam, guru kami mengajak kami ke sebuah ruangan dan berkata: “Bila kalian tidak mengikuti pelajaran ini tidak masalah. Nilai kalian bisa diberikan lewat pelajaran bahasa Arab”. Pulang sekolah, masalah ini kami bicarakan dengan ayah. Orang tua kami malah mengatakan agar kami berdua ikut pelajaran itu. Kalian harus mengetahui agama-agama dunia. Kalian pelajari budaya Islam. Kita sebagai Arab Kristen kaya dengan budaya Islam Oleh karenanya, jangan sampai kalian tidak mengetahui budaya mereka.
Nasihat ayah sangat mempengaruhi kami. Ayah juga berbicara langsung dengan guru agama dan akhirnya kami ikut kelas agama Islam. Ayah sangat berjasa dalam rangka memperkenalkan kami dengan agama Islam.
Masuk SMU, saya memilih jurusan sastra. Sejak itu saya aktif menulis. Ketika pindah ke Kuwait, saya menjadi penulis berita olah raga di harian Akhbar al-Kuwait. Semenjak itu saya sering berpindah-pindah menulis berita olah raga, budaya, ekonomi, seni dan kabar daerah juga pernah saya lakoni. Menjadi penulis atau pimpinan redaksi koran atau majalah sudah merupakan pekerjaan saya. Kira-kira tahun ini adalah tahun ke 41 saya menekuni dunia jurnalistik.

Soal: Saat ini apa aktivitas Anda?


AB: Saat ini saya selaku direktur majalah mingguan Al-Hawadits Network. Majalah yang menyoroti masalah seni, sosial, budaya dan hukum. Tapi tidak itu saja kerja saya. Karena saya punya kontrak dengan sebagian majalah dan radio. Hanya saja saat ini konsentrasi saya pada buku-buku sastra dan roman. Saat ini saya punya buku yang ditulis sejak 25 tahun lalu. Buku itu berjudul “Zainab; Sharkhah Akmalat Masirah” (Zainab; Teriakan yang menyempurnakan perjalanan Husein as). Sampai saat ini belum selesai. Saya memberikan kemungkinan kualitasnya masih di bawah buku saudaranya “Al-Husein Fi al-Fikr al-Masihi”.

Soal: Maukah Anda menceritakan bagaimana Anda sampai mengenal tentang Ahul Bait, terutama Imam Husein as? Di mana Anda mulai pertama kali mengenal Imam Husein? Bagaimana itu terjadi sehingga Anda berpikiran untuk menulis tentang Imam Husein as?

AB: Semuanya terjadi begitu saja tanpa direncanakan. Apa yang saya baca mengenai Karbala sangat sedikit. Saat masih muda dan lagi semangat-semangatnya bekerja, bersama teman-teman kami pergi menemui almarhum Ayatullah Sayyid Muhammad Syirazi. Saat itu beliau bertanya kepada saya: “Apakah engkau mengetahui tentang peristiwa Karbala? Jawab saya: “Yang saya ketahui Karbala merupakan perang antara Yazid dan Husein”. Beliau melanjutkan: “Apakah engkau mengetahui tentang apa yang terjadi pada perang itu? “Tidak”, jawab saya. Beliau kemudian memberikan kepada saya beberapa buku tentang Karbala. Salah satunya adalah buku yang menceritakan kejadian rinci peristiwa Karbala berjudul al-Muqarram.
Sekembali dari sana, saya mulai membaca buku itu. Di samping membaca buku itu, saya secara aktif memberikan catatan-catatan di pinggir buku. Setelah sebulan saya kembali bertemu dengan Ayatullah Muhammad Syirazi. Beliau bertanya: “Apakah engkau telah membacanya? saya menjawab: “Iya”. Selain itu juga saya memberikan catatan pinggir dalam buku tersebut. Enam bulan setelah itu, Ayatullah Syirazi meminta saya untuk memperlihatkan catatan pinggir. Setelah membacanya, beliau berkata bahwa catatan-catatan yang saya berikan atas buku itu punya nilai untuk dijadikan sebuah buku. Karena dalam catatan itu ada banyak poin-poin yang belum ditulis oleh penulis Syi’ah maupun Sunni. Karena ini ditulis oleh seorang Kristen yang tidak pernah tahu akan kesucian tokoh yang bakal ditulis. Seorang yang tidak memandang sejarah hanya dari sisi materi tapi menukik jauh mengeksplorasi sisi maknawinya. Engkau sebagai seorang Kristen yang hidup di tengah-tengah peradaban Islam memiliki gaya tulisan dan sudut pandang yang berbeda. Mendapat dorongan itu saya hanya dapat menjawab: “Usia saya masih sangat muda untuk mengumpulkan idea-idea lalu menuliskannya. Ini sebuah pekerjaan besar dan sulit”. Beliau menasihati saya: “Mulailah bekerja! Allah dengan berkah Imam Husein as akan menolongmu”.
Semenjak itu saya mulai menulis. Namun, setiap kali saya mulai untuk menulis, terasa bahwa pekerjaan ini semakin sulit. Karena pekerjaan ini akan menyebabkan sebagian kelompok akan senang dan sebagian lainnya tidak senang. Khususnya, banyaknya data-data sejarah yang saling kontradiksi. Hal ini membuat saya seperti sedang berjalan di antara ranjau. Jalur yang saya pilih merupakan tempat persimpangan akidah dan mazhab yang memiliki masa lalu dimulai dari peristiwa Saqifah hingga pembantaian Karbala. Di sini ada kelompok yang pro dan ada yang kontra.
Sebagian seperti Ibn Qayyim al-Jauzi mengatakan bahwa kesalahan terbesar adalah kebangkitan dan perlawanan Husein. Sementara sejarawan lain menyebutkan bahwa gerakan Husein merupakan pergerakan yang berlandaskan akidah.
Dari sini, saya melihat bahwa betapa penting dan riskannya saya selaku seorang Kristen melihat masalah ini. Karena saya bukan seorang muslim sehingga tidak dipengaruhi secara emosional oleh kejadian. Saya bukan pula seorang orientalis yang tidak punya kepedulian mengkaji sisi emosi dan maknawi dari peristiwa Karbala.
Untuk menulis buku ini, saya melakukan rujukan terhadap ratusan sumber. Cukup lama saya melakukan penelitian. Setiap kali mulai menulis, saya merasa ikut secara emosi dan berkali-kali pula saya menghapus dan mulai menulis lagi sampai benar-benar saya puas dengan hasil tulisan saya sendiri. Penelitian yang saya lakukan menghabiskan waktu 5 tahun. Setelah itu saya mulai menulis. Dalam proses menulis buku ini, saya merasakan ada kekuatan yang tidak terlihat yang mendorong dan memacu saya untuk menyelesaikan tulisan. Sekarang, 32 tahun berlalu semenjak saya menulis buku ini. Dengan pengalaman di dunia jurnalistik, saya tidak yakin dapat menghasilkan karya yang lebih baik dari buku ini. Buku ini punya arti tersendiri buat saya dibandingkan 15 buah buku saya yang lain. Karena pengaruh dan reaksi yang indah dan positif muncul dalam usaha saya menulis buku ini. Analisa rasional yang saya pakai dalam mendekati masalah Karbala membuat saya sampai pada sebuah capaian.
Saya merasa berhasil membuka cakrawala baru dalam mengkaji masalah Karbala.

Soal: Anda telah berbicara banyak mengenai buku “Husein as menurut seorang Kristen”. Kami akan sangat berterima kasih bila Anda mau berbicara lebih lanjut mengenai kekhususan buku ini?

AB: Kelebihan buku ini adalah cara pandang terhadap masalah. Perbedaan itu baik dari sisi kaum muslimin sendiri atau dari penulis-penulis orientalis. Kebanyakan orang yang telah membaca buku ini menyimpulkan bahwa ia ditulis dengan menjaga sikap obyektif, tidak memihak.
Kekhususan lain yang dimiliki adalah berusaha untuk melakukan perbandingan antara pribadi Husein dan Isa, baik dari sisi cara pandang, sikap, tindakan, ucapan dan cara mereka menemui kesahidan karena memperjuangkan akidah dan keyakinannya. Saya melihat banyak kesamaan antara pribadi Husein dan Isa sebagai seorang martir dan bukan sebagai seorang Nabi. Berkenaan dengan kehidupan dan kesahidan Husein saya banyak melakukan penelitian. Sungguh menakjubkan, banyak saya temukan perilaku, tindakan, ucapan, cara menyampaikan keyakinan dan bagaimana membela keyakinannya yang memiliki kesamaan dengan Isa. Ini satu hal yang baru buat saya. Tema ini secara terperinci saya kaji yang memunculkan pertanyaan mengapa kedua orang ini lebih memilih mati. Terlebih buat Husein yang masih punya kesempatan untuk meraih keuntungan material. Ia dapat saja memilih kedudukan dan kekayaan duniawi bila sedikit menunjukkan kelenturannya dalam menyikapi keadaan yang ada. Ia dapat saja menerima keinginan Muawiyah dan Yazid. Dengan mudah ia dapat menyelamatkan dirinya dari kematian. Namun, berdasarkan ayat,


“Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan atau pun merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah” (at-Taubah: 41),


ia melakukan pergerakan yang luar biasa. Ia tidak mempedulikan semua pangkat, kedudukan dan kekayaan. Sementara itu pada saat bersamaan, para pecinta dunia tamak akan semua itu. Husein meninggalkan semua itu dan menuju pada jalan kesahidan. Dalam usahanya menuju jalan kesahidan ia tidak lupa membawa keluarganya menuju syahadah. Ia tahu betul bahwa mereka berada di jalur akidah.

Soal: Kami mendengar bahwa pada cetakan keempat ini Anda melakukan revisi serta menambahkan tulisan lain sehingga buku ini terlihat lebih berisi dan kaya. Apakah Anda mau memberikan penjelasan lebih lanjut?

AB: Pada cetakan keempat, saya menambahkan komentar-komentar dari tokoh-tokoh kaum muslimin; baik dari Sunni maupun Syi’ah. Komentar yang pernah dimuat di media. Begitu juga saya menambahkan tentang pemberitaan buku ini. Karena buku ini sempat di meja hijaukan oleh pemerintah Kuwait dan dilarang peredarannya. Tambahan lain adalah adanya 50 gambar yang dihasilkan oleh seniman Iran dan Arab yang menggambarkan bagaimana terjadinya peristiwa Karbala. Gambar-gambar ini saya letakkan di akhir buku. Yang lebih penting dari semua itu adalah penambahan sumber-sumber rujukan baru yang tidak terdapat pada cetakan sebelumnya. Ringkasnya, cetakan ke empat merupakan hasil usaha penelitian baru selama 20 tahun dengan analisa yang lebih rinci dan detil guna memperkaya buku ini. Alhamdulillah, cetakan keempat ini telah dicetak dan lebih bisa diterima.

Soal: Pelarangan peredaran buku Anda seperti apa?

AB: Masalah di meja hijaukan buku ini merupakan hal yang aneh. Mengapa saya katakan aneh, karena sangkaan itu berdasarkan ibarat tentang kepemimpinan Utsman atas kaum muslimin, cara ia memerintah dan bagaimana masyarakat melakukan demonstrasi terhadapnya. Saya menukil ibarat-ibarat itu dari buku rujukan yang paling dipercaya. Buku yang saya jadikan rujukan ada tersimpan rapi di perpustakaan Kuwait. Pada tahun 1986 ada surat panggilan dari pengadilan untuk saya. Alasannya adalah ibarat yang saya pakai tentang Utsman merupakan hasil karangan saya belaka dan tidak ada data yang jelas.
Untuk membuktikan ketidakbersalahan saya, puluhan rujukan dan buku yang menulis tentang Utsman saya bawakan dan perlihatkan kepada mereka. Saya katakan bahwa masalah ini sangat jelas dan tidak ada yang perlu ditutup-tutupi. Bahkan, yang menarik, saya menemukan ibarat yang lebih keras di sebuah majalah al-Arabi yang berafiliasi dengan Kementrian Penerangan Kuwait. Ibarat yang ada dengan isi yang sama, namun dengan nada keras berbicara tentang Utsman.
Ironisnya, karena sejak awal niat mereka adalah berusaha agar buku ini tidak diterbitkan, pertama mereka menuntut saya mengganti rugi sebesar 50 dinar. Setelah itu terbit pelarangan dan penarikan kembali buku ini. Saya tidak terima. Saya minta naik banding. Dalam pengadilan banding, saya membawakan data-data sejarah kira-kira setebal 150 halaman. Hakim pada pengadilan banding, tanpa berusaha mau melihat data-data yang saya bawakan, yang kesemuanya dari buku-buku Ahli Sunah, memenangkan amar putusan pengadilan sebelumnya. Saya dapat merasakan bagaimana hakim punya niat tidak baik sejak awal. Saya tahu betul bahwa hakim punya hubungan erat dengan gerakan salafi.
Setelah lama berlalu, pada akhirnya saya tahu bahwa apa yang terkait dengan Syi’ah bakal disidangkan dan pasti putusannya adalah pelarangan peredaran. Pada akhirnya, buku saya pada tahun itu termasuk yang berada di daftar buku-buku hitam yang dilarang terbit.
Dengan kejadian itu, saya berkesimpulan untuk tidak mencetak untuk keduakalinya. Semenjak itu, kurang lebih selama 20 tahun, yang saya lakukan adalah mengedit kembali dengan memberikan tambahan. Saya hanya melakukan itu hingga dua tahun terakhir saya melangkah lebih jauh dengan terjun langsung melakukan lay out dan mencetaknya. Akhirnya cetakan baru keluar tanpa kekurangan dan kritik.

Soal: Apa reaksi dan respon pembaca buku Anda?

AB: Setelah buku itu terbit, kira-kira 3 bulan, salah seorang salafi yang ekstrim menulis buku dengan judul “Yazid Amir al-Mukminin” (Yazid pemimpin kaum mukminin), yang tujuannya sebagai jawaban dan kritikan atas buku saya. Ia salah seorang pengikut kelompok yang sesat. Dengan semua fasilitas yang dimilikinya berusaha untuk menyesatkan pemikiran Islam dan Syi’ah. Ia membawa bukunya untuk dicetak di percetakan di mana buku saya dicetak. Pimpinan percetakan yang melihat gelagat tidak baik, lantas memintanya untuk mendapatkan izin cetak terlebih dahulu baru dicetak. Ucapan ini membuatnya tidak jadi memaksakan bukunya untuk dicetak. Setelah setahun, saya baru tahu kalau buku itu dicetak di Arab Saudi. Buku ini isinya penuh dengan hinaan dan cemoohan terhadap Husein yang dipengaruhi oleh pemikiran ibn Jauzi.
Selain buku di atas, ada beberapa buku lain yang diterbitkan. Buku-buku ini pada bagian-bagian tertentu dari pembahasannya sedikit banyaknya berusaha melakukan kritik atas buku saya. Begitu juga di media massa dengan mudah dapat ditemukan, baik dahulu atau sekarang, tulisan-tulisan yang melakukan kritik. Semua itu dilakukan oleh kaum muslim ekstrim.
Dari sisi lain, banyak dari kalangan muslim, baik itu Sunni atau Syi’ah, memberikan pujian atas keberadaan buku ini. Buku ini mencerminkan rasa persatuan dan mencoba melihat masalah secara lebih obyektif. Menurut mereka, sikap obyektif yang tercermin dari buku ini merupakan kelebihan buku ini. Mereka menegaskan bahwa buku ini ditulis jauh dari sikap fanatik dan tendensi tertentu. Gaya kajian buku ini mempergunakan metode rasional dan tidak memihak.
Mereka yang kontra mengatakan bahwa semua yang tertulis dalam buku ini tidak benar. Semua kesamaan antara Husein dan Isa, pada kenyataannya tidak ada. Bila nampak seperti ada kesamaan, maka itu hanya kebetulan saja.
Secara umum, setelah peluncuran buku ini, banyak
yang pro dan kontra, namun yang pro lebih banyak.

Soal: Anda sendiri melihat bagaimana reaksi ulama Islam dan para pendeta tentang buku ini?

AB: Di kalangan kaum muslimin, kebanyakan ulama Syi’ah dan sebagian kelompok dari ulama Ahli Sunah menunjukkan sikap positif atas terbitnya buku ini. Mereka menyebutkan sebuah buku yang menganalisa secara rasional, indah dan perlu dibaca. Buku ini mampu menjaga sikap obyektif. Ulama Syi’ah secara keseluruhan memberikan penilaian bahwa buku ini membawa idea-idea yang benar-benar baru, teori dan analisa yang diberikan lahir dari kreativitas penulis. Sementara sebagian ulama salafi yang ekstrim menganggap muatan buku ini tidak benar dan memuat ajaran dan keyakinan Syi’ah.
Ilmuwan dan para pendeta menunjukkan sikap positif. Mereka memuji hasil kerja saya. Bahkan sebagian dari mereka sangat senang dengan diterbitkannya buku yang seperti ini. Mereka berkeyakinan usaha ini adalah upaya untuk mendekatkan agama-agama dan mencoba menyatukan perbuatan para wali dan Nabi.
Umumnya, mereka yang mengkritik buku ini tidak memiliki dalil dan data yang cukup. Saya sendiri melihat bahwa kritikan itu lahir dari sikap fanatik dan tendensi tertentu. Kefanatikan mereka begitu besar sehingga menutup mata mereka untuk menanyakan, mengapa cucu Nabi harus melakukan penentangan atas penguasa? Semua fasilitas tidak digubrisnya, malah mengajak keluarga menuju jalan yang penuh bahaya. Apakah tujuan Husein bersifat pribadi? Bila untuk itu, ia tidak akan membahayakan dirinya. Namun, kita melihat bagaimana setelah berabad-abad, generasi demi generasi, ide dan jalan yang ditempuh Husein disucikan. Jutaan manusia mengingat Husein dengan penghormatan. Apakah ini bukan rahasia ilahi?
Ada yang mengkritik saya dengan mengatakan bahwa bukankah engkau bukan seorang muslim, mengapa harus menulis tentang Husein? Jawaban saya: “Bagaimana mungkin seseorang tidak tertarik dan luruh di hadapan pribadi sebesar Husein yang berasal dari keturunan Nabi, Ali dan Fathimah Zahra? Dalam catatan sejarah tidak pernah dalam kehidupannya ditemukan ia menunjukkan kesan lemah dan hina. Saya tidak sendiri disedot oleh karisma dan kepribadian Husein. Lihatlah Gandi! Seorang Hindu yang mengatakan bahwa bila kalian ingin menang dalam perjuangan, maka berjalanlah di jalur Husein. Saya belajar dari Husein untuk menjadi mazlum agar dapat menang”.
Apakah Gandi seorang muslim sehingga ia harus mengucapkan kalimat-kalimat seperti itu? Atau Jibran Khalil Jibran seorang Kristen yang berbicara tentang Husein. Ia berkata: “Husein adalah pelita yang menerangi semua agama”. Saya juga ingin menggambarkan sosok itu, “Husein rahasia kekekalan semua agama”.

Soal: Di dalam Islam banyak pribadi agung yang dapat menjadi teladan, khususnya di Syi’ah ada para Imam, seperti Imam Ali as. Mengapa Anda memilih Zainab dan Husein as? Apakah selain keduanya, Anda punya tulisan juga?


AB: Pertanyaan bagus. Dalam buku ini, saya menuliskan ibarat yang berbunyi, “Islam dimulai oleh Muhammad dan kelanjutannya oleh Husein. Perjuangan Karbala dimulai oleh Husein dan kelanjutannya oleh Zainab”. Tuhan pada masa tertentu akan memilih sekelompok orang yang mampu menghidupkan hati manusia. Husein merupakan sebagian dari penghidup itu. Dengan pergerakan yang dilakukannya banyak “orang mati” yang hidup kembali. Dengan segala penghormatan terhadap semua Imam as, terutama Imam Ali as yang begitu dicintai oleh sebagian besar orang-orang Kristen Arab, perjuangan yang dilakukan oleh Husein merupakan perjuangan yang jelas dan dicatat oleh sejarah dan pengaruhnya tertanam dalam hati manusia. Percikan api yang terjadi di Karbala saat ini bak sinar lampu yang menerangi sejarah kehidupan manusia. Lihat bagaimana lampu yang coba dinyalakan oleh Muawiyah dan Yazid telah padam dan lenyap. Saat ini apa yang Anda ketahui tentang kuburan Yazid? Siapa yang menghormati kuburannya? Di Suriah, kuburannya telah berubah menjadi tempat sampah, tempat kucing mengaisi makanannya. Bandingkan dengan beberapa meter dari kuburannya, tempat kepala Husein dikuburkan. Tempat itu dihormati oleh kaum muslimin. Penghormatan kepada para Imam as, saya tunjukkan dengan alasan memilih Husein.
Perlu diketahui bahwa sekaitan dengan Imam Ali as, saya juga melakukan kajian tentangnya. Saya meneliti Imam Ali as berbarengan atau di sela-sela penelitian saya terhadap Husein. Saya telah membaca Nahjul Balaghah sebanyak 25 kali. Dan setiap kali saya membacanya terungkap poin-poin baru. Dalam tulisan-tulisan saya, bahkan dalam buku ini, ucapan-ucapan Imam Ali as banyak menghiasi. Sampai saat ini, ada beberapa artikel yang saya tuliskan tentang Imam Ali as.

Soal: Setelah melakukan kajian panjang dan dalam berhubungan dengan sejarah Islam tentang pribadi Imam Husein as, bagaimana sekarang Anda mendefinisikan Imam Husein as. Dengan ibarat lain, bagaimana Anda melihat dan mendefinisikan Imam Husein as?


AB: Definisi saya tentang Husein sama dengan ibarat pendek tentangnya dalam buku ini. Saya menyebutnya, “Husein rahasia kekekalan semua agama”. Saya memperkenalkan Husein sebagai martir yang tidak memiliki kedudukan dan kekayaan seperti Fir’aun dan Kisra. Husein begitu rendah hati dan untuk menjaga agama dan bergerak pada jalur kakeknya ia mulai menapaki jalannya. Ia memulai dengan berdialog dengan Muawiyah dan Yazid. Sayangnya, metode dialog tidak mempan. Husein tahu bakal terbunuh tapi ia tetap memilih jalan penuh bahaya itu. Dengan pasukan kecil berjumlah 70 orang ia menghadapi 70 ribu pasukan Ubaidillah. Ia dan pasukannya bergerak menuju Kufah agar pergerakan ini dapat menyentuh masyarakat.
Perjuangan Husein tidak khusus milik Sunni dan Syi’ah. Perjuangan Husein milik setiap orang mukmin. Itu yang diungkapkan oleh hadis, “Sesungguhnya pembantaian Husein membuat gejolak di dada orang mukmin yang tidak bakal padam selamanya”. Hadis ini tidak
menyebutkan di dada muslim, melainkan mencakup setiap manusia bebas yang percaya dan mukmin akan jalan dan cara Husein. Oleh karenanya, setiap pemikir yang menyadari sejarah Husein bakal tertarik dan mengikutinya, sebagaimana mereka tertarik dan mengikuti jalan dan cara Ali bin Abi Thalib as.

Soal: Dalam buku Anda, disebutkan bahwa Nabi Isa as mengetahui kedatangan Husein ke Karbala. Nabi Isa as juga memberikan kabar tentang Husein. Apakah klaim Anda ini bisa dibuktikan?


AB: Iya! Argumentasi saya semuanya bisa ditemukan di Injil. Dalam sejarah disebutkan bahwa Isa sempat pergi ke Karbala. Isa as kemudian berkata kepada Bani Israil: “Barang siapa yang menemui Husein di sana, hendaknya ia menolongnya”. Sebagian meragukan riwayat sejarah ini. Saya tidak melihat ada keraguan tentang masalah ini. Karena Isa as memiliki banyak mukjizat. Ia dapat menghidupkan orang mati dan dapat pula menyembuhkan penyakit yang sulit sembuh. Oleh karenanya, apakah sulit buat dia untuk membuka rahasia masa depan dan mengatakan siapa yang bakal menjadi martir setelah dirinya?

Soal: Anda melakukan kajian yang luas dan mendalam mengenai kehidupan dan ucapan-ucapan Imam Husein as. Sisi mana dari pribadinya yang paling menarik perhatian Anda?


AB: Pertanyaan indah. Saya sangat tertarik pada sisi revolusioner dari pribadi Husein. Ketika keluar untuk melawan ia berkata: “Aku tidak melawan dengan alasan hawa nafsu, kesenangan, kerusakan dan kezaliman. Aku bangkit melawan untuk memperbaiki umat kakekku dan berdasarkan amar makruf dan nahi mungkar”. Semangat revolusioner semacam ini dapat menciptakan mukjizat. Pada tahun-tahun terakhir kita dapat melihat kemenangan revolusi, kemuliaan dan kebanggaan. Masyarakat Iran dengan pemimpinnya bahu membahu bangkit melawan hegemoni dan kezaliman berdasarkan filsafat ini.
Sisi lain dari kepribadian Husein yang sangat menarik perhatian saya adalah kerendahan hati di samping semangat revolusioner yang dimilikinya. Ini dua sifat yang tidak mungkin berdampingan pada diri seseorang. Sikap rendah hati merupakan sifat orang-orang pilihan Tuhan. Husein di samping memiliki semangat harga diri dan kebebasan di hadapan musuh, juga rendah hati. Ini sifat mulia yang menjadi kekhususan Husein.


[S Lapadi/islat]Bersambung…[1] .


Wawancara dengan Antoine Bara pemikir Kristen yang menulis buku “Al-Husein fi al-Fikr al-Masihi” (Husein as Menurut Seorang Kristen).


Wawancara ini dilakukan oleh harian Kayhan berbahasa Parsi di kantor Kayhan selama tiga jam dan dimuat pada tanggal 24 Januari 2007.

Saturday, January 24, 2009

Profesor Kecil


Doktor Sayid Muhammad Husein Thabathaba’i, demikian gelar dan nama bocah Iran tersebut. Titel Doktor ini diperolehnya pada usia tujuh tahun dari universitas di Inggris.

Doktor Sayid Muhammad Husein Thabathaba’i adalah:

Anak termuda yang hafal seluruh Al Quran, penerjemah Al Quran termuda dan pelajar Hauzah Ilmiah Qom yang paling belia.

Anak pertama yang mampu menyampaikan semua keinginan dan percakapannya sehari-hari dengan menggunakan ayat-ayat suci Al Quran.

Anak pertama yang berhasil menghafal seluruh Al Quran dengan metode isyarat.

Anak pertama yang bisa dengan mudah menghubungkan satu ayat dengan lainnya dan menafsirkan ayat Al Quran dengan cara itu.

Anak pertama yang dapat menjawab semua pertanyaan dengan menggunakan ayat-ayat suci Al Quran.

Anak pertama dari negeri Iran yang berhasil memperoleh titel Doktor kehormatan dari salah satu universitas Inggris di usianya yang ketujuh

VCD The Amazing Child menjadi bukti bagi mereka yang ragu akan keagungan para penghafal Al Qur’an .

“Sesungguhnya Kami yang telah menurunkan Al Qur’an, dan sesungguhnya Kami pula yang akan menjaganya.” (QS Al-Hijr: 15)

Demikian Allah subhaanahu wata’aala berfirman, dan kebenaran mutlak atas firmanNya. Al Quran yang telah diturunkan akan senantiasa dijaganya, tiada satu makhlukpun yang berkuasa untuk menghapus hukumnya dan menghilangkan pengaruhnya dari jiwa hamba-hamba-Nya yang suci. Dia yang membuat aturan dan undang-undang dasar hidup makhluknya. Maka hanya Dia pula yang memiliki kuasa untuk menghancurkannya atau mengokohkannya.

Anak kecil dalam film ini (sebagai bukti kebesaranNya) adalah nyata adanya, sejak umur 3th, kedua orang tuanya (Hafidz & Hafidzah Al Qur’an) telah memperkenalkan Al Qur’an kepada Husein, putranya. Dan dalam tempo 2,5 th ia dapat menghafal AlQur’an beserta makna dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Masih banyak lagi keajaiban yang dimiliki oleh anak kecil tersebut dalam film ini yang dapat membuat anda berdecak kagum atas kebesaran-Nya. Semoga Bermanfaat…

Production by: Ar Rahmah MediaDurrasi: 27 minitBahasa: IranSubtittle: IndonesianRilis:

Januari 2007Kategori: EducationLayanan Pemesanan: 021 6884 1087

Sekilas cuplikan dari VCD tersebut;

Suasana dalam ruangan itu mendadak hening …para syaikh, hafidz, mufassir & jamaah lainnya menahan pembicaraan.Perhatian mereka tertuju pada sosok bocah yang sedang duduk bersila dengan tenang …dihadapan mereka .

Tatapan matanya yang bulat & jernih menyapu ratusan hadirin yg berjubel ….wajahnya yg polos tampak berseri…memancark an kharisma yg kuat ….senyumnya tipis membuat gemas siapapun yg memandang .

Ya bocah itu bukan bocah biasa…sejak beberapa bulan terakhir …ia menjadi buah bibir kaum muslimin Iran . Dalam usianya yg masih balita ( 5 thn ) ia sudah hafal Al Quran beserta maknanya .

Bahkan dalam kesehariannya ia berbicara dengan bahasa Al Quran. Namanya Muhammad Husein bin Thoba Thoba’i .

Di depan namanya ada kata Sayyid….itu artinya ia termasuk salah satuZurriyat Rasululloh ….orang2 menjuluki The Amazing Child …Si Bocah Ajaib .Duduk di sampingnya adalah sang Ayah …Sayyid Thoba Thoba’i …sedang berbicara …

Seperti saudara2 ketahui…anak saya telah hafal Al Quran di usia balita lengkap dgn terjemahannya.

Kami mengajarkan Al Quran sejak ia berumur 2 tahun 4 bulan …sebagian kami sendiri yang mengajarkannya …dan sebagian yang lain …..dia menguasai sendiri …..misalnya berbicara dgn bahasa Al Quran ….Alhamdulillah dia bisa dgn sendirinya .

Ia selalu berbicara dgn bahasa Al Quran baik di dalam rumah maupun di luar rumah .

Jika dibacakan sebuah kalimat dari Al Quran …ia mampu menjelaskan bahwa kalimat itu ada dalam surah ini …ayat sekian …juz sekian & berada di halaman sekian .

Ia juga hafal tulisan yang berada diawal halaman & 5 halaman berikutnya .

Bahkan ia hafal kalimat atau ayat2 yg serupa secara lafadz & maknanya …( Allohu Akbar !….echost )

Sekarang ….saudara dapat bertanya langsung kepadanya tentang suatu ayat …dan tanyakan itu surah apa ….ayat berapa & di juz berapa …….

Atau bacakan kepadanya suatu terjemahan ayat ….lalu minta kepadanya untuk menyebutkan ayatnya atau menanyakan suatu tema dalam Al Quran …..Insya Alloh …ia dapat menjelaskannya .

Seorang jama’ah langsung mengangkat tangannya …tanpa dipersilahkan lebih lanjut ia bertanya dengan membaca sebuah ayat ….lantas sang ayah membacakan kembali ayat tsb kepada Husein …..

“Wa atainahul hukma shabiyya …ayat ini di surat apa ? ” tanya sang ayah …dengan spontan

Husein menjawab :

” Surah Maryam ”

” Juz berapa ? ”

” Juz ke 16 ”

” Terletak dihalaman berapa dalam surah Maryam ? ”

” Dihalaman pertama ”

” Apa arti ayat tsb ? ”

” Dan kami telah anugerahkan hukum kepadanya ketika masih dalam gendongan ”

” Ahsantum ! ….Bagus ! ” kata sang ayah …..” Sekarang bacalah beberapa ayat setelahnya ” perintah sang ayah .

Maka si bocah meneruskannya hingga 3 surah selanjutnya ……..untaian firman Alloh itu mengalir lancar dari bibirnya.suaranya jernih …lafadznya fasih …hadirin menahan nafasnya .

Sang ayah kembali bertanya : ” Dalam Al Quran terdapat ayat yg menyebutkan bahwa Nabi Isa yg masih bayi berdialog dengan umat seperti orang dewasa …Nah ayat ini ada di surah apa ? ”

” Di surah Ali Imron Juz ke 3 ”

” Sebutkan ayatnya ” kata sang ayah

Sayyid Husein membacanya dgn lancar …dilanjutkan dgn artinya .

Lalu Sayyid Thoba Thoba’I kembali memuji putranya :” Bagus , semoga Alloh memberkatimu ”

Sementara itu seorang guru membacakan surah Al Qur’an yang kemudian dibacakan kembali oleh sang ayah .

” Wakhfidh lahuma janahadz dzulli ….ayat itu ada di surah apa ? ” tanya sang ayah .

Tanpa berfikir panjang Sayyid Husein menjawab : ” Al Isro ”

” Juz berapa ? ”

” Ke 15 ”

” Dihalaman berapa ? ”

” Ke 3 ”

” Sekarang ucapkan artinya ”

” Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dgn penuh kesayangandan ucapkanlah : Wahai Tuhanku kasihilah mereka keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil ” ( Al Isro : 24 )

” Lanjutkan ayat2 berikutnya ” pinta sang ayah lagi .

Lagi2 dgn suaranya yang jernih , ia membacakan surah Al Isro hingga 2 ayat berikutnya .

Hadirin mulai tidak tenang …mereka terus menerus mengucapkan lafadz takjub” Masya Allooooh ” .

Pertanyaan tak berhenti sampai disitu …hadirin semakin penasaran …seseorang yg tampaknya sengaja datang dari jauh …sengaja datang hanya untuk melihat keajaiban itu .

Ia bertanya berdasarkan ayat Al Qur’an yg ia buka secara acak .

” Wahai sayyid , surah apakah yg saya bacakan ini ….Tsumma qila lahum aina ma kuntum tusyrikun ? ”

” Az Zumar ” kata sayyid Husein sambil tersenyum

” Juz berapa ? ”

” Ke 24 ”

” Di halaman berapa dalam Az Zumar ? ”

” 8 ”

” Apa arti kata Zumaro ? ”

” Berbondong - Bondong ”

” Bacalah kembali ayat tadi & lanjutkan dgn ayat berikutnya ”

Dengan lancar Sayyid Husein membaca ayat tsb ….dan semua orang terpana.

Sosok bocah ini seakan bersinar …menerangi hati kaum muslimin yg hadir ….ia memancarkan kharisma & kewibawaan …yang membuat orang lain mencintai dia .

Diantara hadirin …ada yg menitikkan air mata krn haru ….ada pula yg sibuk membolak balik Al Quran untuk mencocokkan apa yg diucapkan si bocah .

Kembali seorang jama’ah yg ahli computer bertanya :” Di dalam Al Qur’an terdapat angka 3, 4, 5 & 6 …nah surat apa & ayat berapa itu ? ”

Seperti komputer canggih …tanpa berfikir lagi Sayyid Husein menjawab yg artinya :

” Nanti ( ada orang yg akan ) mengatakan ( jumlah mereka ) adalah 3 orang , yang ke 4 adalah anjingnya & mengatakan ( jumlah mereka ) adalah 5 orang , yang ke 6 adalah anjingnya . ( Al Kahfi : 22 ) .

Mendengar jawaban Sayyid Husein ….hadirin serentak melafadzkan :Masya Alloh …Lahawla wala kuwata illa billah ..

Betapa tidak , seorang pakar komputer sekalipun perlu beberapa waktu untuk menemukan ayat tsb ..paling tidak beberapa menit …tapi Sayyid Husein dapat langsung menjawabnya .

Jama’ah yg tadi seakan tidak puas …Ia kembali bertanya :

” Apakah ada ayat lain yg menyebutkan angka selain 3, 4, 5, 6 ? ”

Setelah beberapa detik …Sayyid Husein menjawab :” Dengan 5000 malaikat yg memakai tanda , itu surah Ali Imron ayat 125 ”

” Adakah angka yg lebih dari itu ? seperti 100.000 bahkan diatasnya ? ”

” Dan kami utus dia kepada seratus ribu orang atau lebih , itu surah As Shoffat : 147 ”

Masya Alloh …..teriak jamaah berbarengan .

Di sela-sela dialog tsb …Sayyid Thoba Thoba’I bercerita bagaimana Al Qur’an sangat mewarnai tingkah polah putranya tsb .

Seseorang pernah bercerita kepada kami bahwa dirinya memohon doa darinya & dijawabnya dgn membaca ayat :


Saufa Astagfiru Lakum Robbi …

kemudian orang itu menyinggung masalah taufiq dan dijawabnya :Wa ma taufiqi illa billah …alaihi tawakaltu wa ilaihi unibu …

Kemudian beberapa minggu lalu ..Al Haj Ali …seorang hafidz …datang bertamu ke rumah kami untuk bertemu & menguji kemampuannya .

Diakhir pertemuan itu ..beliau mengajaknya untuk menghadiri sebuah acara , beliau bertanya :

” Apakah kamu mau menghadirinya ? ” ia menjawab :

” Kalau ayahku mengizinkan …aku akan datang ….”

Ulama itu kembali berkata : ” Aku akan membelikan kamu baju bagus supaya kamu kenakan, apakah kamu senang dengannya ? ”

Anak saya menjawab :” Walibasut Taqwa Dzalika Khair ( Pakaian Taqwa adalah yg Terbaik ) …
mendengar ayahnya menceritakan hal ini …Sayyid Husein tersipu malu .

Sayyid Thoba Thoba’i kemudian menceritakan pula bagaimana ia mendidik Sayyid Husein .
Dengan merendah ia berkata :


” Sebenarnya saya sebagai seorang ayah tidak pantas berpesan sebagaimana yg anda inginkan .
Tetapi disini saya atas nama seorang pengajar Al Quran akan berpesan kepada para bapak & ibu …bagaimana saya mengajarkan Al Quran kepadanya .

Yaitu pada awalnya para bapak ibu sendiri ….harus memiliki perhatian khusus terhadap Al Quran .

Di rumah harus sering membaca Al Quran …kalau tidak …jangan harap anak2 menjadi seorang penghafal Al Qur’an ..menjadi Qori yang mampu memahami makna Al Qur’an .

Saya di rumah membiasakan berbicara menggunakan bahasa Al Qur’an dgn Husein , demikian juga ibunya ( yg setiap hari harus membaca Al Qur’an ) ….

apalagi sbg hafidz …setiap hari kami harus membaca 2 Juz kurang lebih .

Selaras dgn keahliannya di dunia, dia berada dalam lingkungan rumah yg Qur’ani… berdialogpun dgn Al Qur’an & pada akhirnya dia akan mengikuti lingkungannya …..maka pelajarilah Al Qur’an .

Di bagian akhir dialog , jama’ah meminta Sayyid Husein untuk memberikan sedikit nasihat .
Sambil tersenyum dia berkata : ” Dan perintahkanlah kepada keluargamu ( untuk ) mendirikan Sholat ” Surah Thoha : 132 …Subhanalloh ….!

Demikian tayangan sekitar 20 mnt VCD berjudul ” The Amazing Child ” produksi thn 2007 .
Siapapun yg menyaksikan ini, tentu hatinya akan tergugah & menjadikannya sebagai tauladan dalam kehidupan sehari2.

Bantulah Ummat Islam di Nias !Help Muslim in Nias Island !

Ungkapan untuk Keselamatan



Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyarankan agar negara-negara Muslim menjadikan Imam Ali bin Abi Thalib sebagai teladan dalam menegakkan suatu pemerintahan berbasis keadilan dan demokrasi.

Salah satu lembaga PBB yang mengurusi masalah perkembangan negara-negara di dunia (UNDP) dalam laporannya pada 2002 bertajuk “Arab Human Development Report”—yang dipublikasikan di seluruh dunia—mengutip enam ucapan Imam Ali bin Abi Thalib tentang pemerintahan ideal.

UNDP mengatakan bahwa sebagian besar negara-negara di kawasan (Arab) itu masih jauh di bawah bangsa-bangsa lain dalam bidang demokrasi, perwakilan politik luas, partisipasi perempuan, pembangunan, dan pengetahuan.Berikut ini ucapan-ucapan Imam Ali bin Abi Thalib yang dikutip UNDP tersebut:


1. Barangsiapa mengangkat dirinya sebagai pemimpin, hendaknya ia mulai mengajari dirinya sendiri sebelum mengajari orang lain. Dan hendaknya ia mendidik dirinya sendiri dengan cara memperbaiki tingkah lakunya sebelum mendidik orang lain dengan ucapan lisannya. Orang yang menjadi pendidik bagi dirinya sendiri lebih patut dihormati ketimbang yang (doyan) mengajari orang lain.

2. Perhatianmu terhadap pengembangan negeri semestinya lebih besar ketimbang perhatianmu terhadap pengumpulan pajak, karena yang kedua ini hanya bisa diperoleh dengan pengembangan. Karena mencari pendapatan tanpa pengembangan berarti menghancurkan negeri dan bangsa.

3. Carilah pertemanan dengan orang-orang yang berilmu dan arif serta orang-orang takwa di antara rakyatmu, dalam mencari solusi atas masalah negerimu.

4. Tidak ada kebaikan apapun dengan berdiam diri dalam masalah pemerintahan atau dalam membicarakan kebodohan.

5. Orang yang takwa adalah yang melakukan kebajikan, yang logikanya lurus, yang busananya bersahaja, yang jalannya sederhana, yang banyak amalnya, dan tidak terguncang karena kesulitan.

6. Pilihlah yang terbaik di antara orang-orangmu untuk menegakkan keadilan. Pilihlah orang yang tidak mudah menyerah, yang tenang meski menghadapi kesulitan, orang yang tidak akan terus menerus melakukan perbuatan salah, yang tidak akan berhenti mengejar hak ketika ia mengetahuinya, orang yang hatinya tidak mengenal kerakusan, yang tidak akan terpuaskan dengan sedikitnya penjelasan tanpa mencari pengetahuan yang maksimal, yang paling tabah ketika keraguan datang mencecar, yang kejemuannya sedikit dalam mengoreksi para penentang, yang paling tabah dalam menuntut kebenaran, yang paling ketat dalam memenuhi keputusan, orang yang tidak terbuai oleh bujuk rayu dan tidak terjerat oleh godaan. Sesungguhnya orang-orang seperti ini amatlah sedikit.

Rindukan Kedamaian


Presiden Republik Islam Iran, Mahmoud Ahmadinejad mengatakan, sudah tiba saatnya rakyat yang dijajah Rezim Zionis Israel untuk melaksanakan kewajiban mereka. Ia juga bertanya kepada pemimpin Israel, mengapa kalian bertindak biadab terhadap rakyat tak berdosa Palestina ? Saat diwawancarai Press TV, presiden Iran mengatakan, mengapa anak-anak tak bordosa di Jalur Gaza harus terbunuh dengan cara demikian ? Dan mengapa masyarakat internasional diam seribu bahasa menyaksikan kebiadaban ini?Kepada masyarakat yang tinggal di Palestina pendudukan, Ahmadinejad mengatakan, kami mengingatkan kepada kalian yang tinggal di Palestina pendudukan baik kelompok Yahudi, Kristen dan Islam, bahwa sudah tiba saatnya bagi kalian untuk turun ke jalan memprotes aksi biadab rezim Zionis terhadap warga Gaza seperti yang dilakukan masyarakat lainnya di dunia. Presiden Iran ini menegaskan, kami juga sadar bahwa di antara serdadu Israel masih terdapat pribadi-pribadi yang tidak rela melihat pembantaian warga tak bedosa Gaza. Kami menyadari mereka senantiasa berdebat dengan para komandan mereka dan sudah lelah dengan kondisi yang ada. Ia menyerukan kepada para serdadu Israel untuk membangkang dari perintah komandan mereka untuk membantai warga Gaza. Di akhir wawancaranya, Ahmadinejad meminta mereka yang menyaksikan pembantaian di Gaza untuk menjalankan kewajiban mereka.

Friday, January 23, 2009

Tuhan itu Tiada!


Seorang pelanggan tiba di barber shop untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya. Tak lama kemudian, si tukang cukur pun mulai memotong rambut pelanggannya. Tanpa maksud apapun, mulailah keduanya terlibat dalam suatu topik pembicaraan yang menghangatkan … !
Mereka membicarakan banyak hal yang gak karuan … entah kenapa … tiba-tiba topik pembicaraan itu beralih membicarakan tentang eksistensi Tuhan.
Tukang cukur berkata: “Saya tidak percaya kalau Tuhan itu ada.”

Pelanggan: “Kenapa kamu berkata begitu?!”, timpal si pelanggan yang kaget!

Tukang Cukur: “Begini … coba Anda perhatikan di depan sana, dijalanan …”, tukang cukur itu tiba-tiba terdiam. Seolah-olah dia sedang berpikir untuk menjelaskan dari mana dia harus memulai pembicaraannya sehingga bisa membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada.

Pelanggan: “Coba yakinkanlah diriku kalau Tuhan itu memang tidak ada.” Katanya.

Tukang Cukur: “jika Tuhan itu ada, adakah orang yang sakit? Akan adakah anak-anak yang terlantar? Jika Tuhan ada, maka otomatis tidak akan ada orang sakit ataupun kesusahan. Sungguh … saya tak bisa membayangkan bagaimana Tuhan Yang Maha Penyayang itu akan membiarkan semua hal ini terjadi.”


Demikianlah argumen-argumen pedas yang dilontarkan tukang cukur kepada si pelanggan.
Pelanggan itupun diam sejenak dan kata-kata itu benar-benar memiliki makna yang dalam baginya, apalagi tukang cukur itu sedang memegang pisau cukur yang tajam dan bersiap-siap untuk mencukur brewok yang tumbuh lebat di sekitar lehernya.


Demi menjaga konsentrasi tukang cukur, akhirnya pelanggan itu memutuskan untuk diam dan tidak meresponnya. Lagipula, tak ada pelanggan waras yang ingin membuat seorang tukang cukur skeptis marah dalam posisi seperti itu kan … ?

Walhasil pelanggan itu memutuskan untuk tidak berdebat dengannya.
Sejurus kemudian, tukang cukur itu akhirnya menyelesaikan pekerjaannya dengan senyuman dan pelanggan itupun pergi meninggalkan barber shop tersebut.

Akan tetapi, tak seberapa jauh setelah dia meninggalkan tempat itu … tiba-tiba pelanggan tadi melihat seseorang di jalanan dengan rambut yang panjang, berombak kasar, dekil dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu benar-benar terlihat kotor dan tidak terawat.


Setelah menyaksikan orang tersebut, si pelanggan segera memutuskan untuk kembali ke barber shop tempat dia menyukur rambutnya.

Setibanya di sana, dia langsung berkata kepada si tukang cukur, “Kamu tahu gak? Sebenarnya TUKANG CUKUR itu tidak ada!” katanya.

Tukang cukur itu sangat kaget dan merasa terhina. Tukang cukur itu tidak terima ucapan si pelanggan, sementara dia sedang mencukur rambut pelanggan lain. Sembari sewaot,


tukang cukur itu berkata, “Apa kamu bilang? Kamu pikir saya tidak tahu cara mencukur yaa?! Kenapa kamu bisa bilang begitu? Ini barber shop saya, dan saya selalu ada di sini, dan saya adalah seorang tukang cukur. Bahkan bukankah saya baru mencukur rambutmu?!”


Demikian kata si tukang cukur yang kesal dengan perkataan pelanggan tadi.

Pelanggan: “Tidak! Tukang cukur itu tidak ada. Sebab jika tukang cukur itu ada, maka tidak akan ada orang yang rambutnya panjang, dekil dan brewok yang tak terurus seperti orang yang saya lihat di luar sana …”

Tukang cukur: “Ah tidak! Itu jelas bukan alasan! Karena faktanya, tukang cukur itu tetap ada!” Sanggahnya.


Lalu tukang cukur itu menambahkan lagi, “Apa yang kamu lihat itu adalah disebabkan kesalahan mereka sendiri … Kenapa mereka tidak datang saja ke saya” Jawab tukang cukur itu seraya membela diri.

Pelanggan: “Cocok!” kata si pelanggan menyetujui perkataan si tukang cukur.


Lalu pelanggan tadi menambahkan: “Itulah poin utamanya! Sama saja kasusnya dengan Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA! Tapi apa yang terjadi …? Manusia-lah yang tidak mau datang kepadaNya, dan tidak mau mencariNya. Oleh karena itu banyak manusia yang sakit dan tertimpa berbagai kesusahan di dunia ini.”

Tukang cukur tadi terbengong !!!

Semoga bermanfaat …

D Celah2 Christ Dan Budhism


Wahai manusia yang (lalai kepada Allah tetapi) tidak dilalaikan (Allah), dan orang-orang yang tidak (melakukan amal baik) tetapi akan tertangkap. Betapa maka saya melihat Anda menjadi tersingkir dari Allah dan tertarik pada yang lain-lain? Anda seperti unta yang digiring gembala ke padang rumput yang terlanda (wabah) penyakit dan tempat minum yang berbencana. Mereka seperti hewan yang diberi makan untuk disembelih, tetapi mereka tidak mengetahui apa yang diniatkan bagi mereka. Bilamana mereka diperlakukan dengan baik, mereka mengira bahwa hari itulah seluruh kehidupannya, dan makan kenyang adalah tujuannya. Demi Allah, apabila saya mau, saya dapat mengatakan kepada setiap orang dari Anda sekalian, ke mana ia akan pergi dan semua urusannya, tetapi saya takut kalau-kalau Anda meninggalkan Rasulullah (saw) dalam memihak kepada saya. Saya hanya akan menyampaikan hal-hal ini kepada orang-orang pilihan yang akan tetap aman dari yang saya takutkan itu. Demi Allah yang mengutus Nabi dengan hak dan mengistimewakannya atas ciptaan. Saya tidak mengatakan selain yang benar. Beliau memberitahukan kepada saya tentang semua ini dan juga tentang kematian setiap orang yang mati, penyelamatan setiap orang yang dikaruniai keselamatan, dan akibat dari urusan (kekhalifahan) ini. Beliau tidak meninggalkan sesuatu (yang dapat) melewati kepala saya tanpa memasukkannya ke dalam telinga saya dan mengatakan kepada saya tentang hal itu.[1]
Wahai manusia! Demi Allah, saya tidak menyuruh Anda untuk menaati sesuatu kecuali saya melaksanakannya sebelum Anda, dan saya tidak mencegah Anda terhadap suatu pelanggaran sebelum saya sendiri menolaknya. •


**********************************************************************************************************


[1] Orang yang meminum dari sumber wahyu dan ilham Ilahi melihat hal-hal di balik tirai gaib dan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di waktu yang akan datang, sama sebagaimana ia melihat obyek-obyek kasat mata, dan ini tidak bertentangan dengan firman Allah, "Katakanlah, 'Tiada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah ....'" (QS. 27:65)
Karena, ayat ini mengandung penyangkalan terhadap pengetahuan pribadi mengenai hal gaib, tetapi bukan penyangkalan terhadap pengetahuan yang diperoleh para nabi dan orang suci melalui ilham Ilahi, yang dengannya mereka meramalkan keadaan yang akan datang dan membuka tirai banyak peristiwa dan kejadian. Beberapa ayat Al-Qur'an mendukung hal ini, di antaranya seperti berikut,
"Dan ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya (Hafsah) suatu peristiwa. "Maka tatkala (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada 'A'isyah), dan Allah memberitahukan hal itu (yakni, semua pembicaraan antara Hafsah dan 'A'isyah) kepada Muhammad, dan Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan 'A'isyah) lalu ia (Hafsah) bertanya, 'Siapakah yang telah memberitahukan hal itu kepadamu?" Nabi menjawab, 'Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal'." (QS. 66:3)
"Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang gaib yang Kamiwahyukan kepadamu (Muhammad)...." (QS. 11:49)
Karena itu, tidaklah tepat mengajukan argumen yang mendukung pandangan bahwa apabila dikatakan bahwa para nabi dan orang-orang suci memiliki pengetahuan tentang alam gaib maka hal itu akan mengandung makna ganda dalam sifat-sifat Tuhan. Akan bermakna ganda (dualitas) apabila dikatakan bahwa seseorang selain Allah mempunyai pengetahuan pribadi tentang hal-hal gaib. Bilamana tidak demikian, yakni bila pengetahuan yang dimiliki para nabi dan imam ialah pengetahuan yang diberikan Allah, maka hal itu tak ada kaitannya dengan dualitas. Apabila dualitas berarti apa yang disangkakan itu, bagaimana kedudukan penegasan 'lsa dalam Al-Qur'an, yakni,
"... Aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung, kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahimya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu ...." (QS. 3:49)
Apabila 'lsa dapat menciptakan dan memberikan kehidupan dengan izin Allah, apakah itu berarti bahwa ia sekutu Allah dalam sifat mencipta dan menghidupkan kembali? Apabila tidak demikian maka mengapa bila Allah memberikan kepada seseorang pengetahuan tentang yang gaib lalu hal itu dianggap mengandung makna bahwa la telah mengambilnya sebagai sekutu-Nya dalam sifat-sifat-Nya?
Dan bagaimana kita dapat memuji keimanan seseorang akan keesaan Allah bila ia menganggap bahwa pengetahuan tentang yang gaib mengandung makna dualitas.
Tak dapat disangkal bahwa sebagian orang melihat dalam mimpi hal-hal tertentu di masa depan yang belum terjadi, atau bahwa hal-hal dapat dibaca melalui takwil mimpi, padahal ketika tidur indera seseorang tidak berfungsi dan daya pengertian dan pemahaman tidak bekerjasama. Maka, apabila beberapa peristiwa diketahui oleh sebagian orang dalam waktu jaga, kiia tak harus kaget dan heran atasnya, dan tak ada alasan untuk menolaknya; bilamana hal itu mungkin dalam impian maka itu pun mungkin dalam keadaan jaga. Ibn Maitsam al-Bahrani menulis bahwa mungkinlah mencapai semua ini, karena dalam mimpi ruh menjadi bebas dari mengurusi jasad dan terlepas dari hubungan jasadi; sebagai hasilnya, ruh melihat kebenaran-kebenaran tersembunyi yang tak dapat dilihat karena gangguan jasad. Sama seperti itu, hamba-hamba yang sempurna yang tidak mempedulikan hal-hal jasadi, dan berpaling dengan seluruh perhatian ruh dan hati kepada pusat pengetahuan, dapat melihat realitas dan rahasia-rahasia yang tak dapat dilihat mata biasa. Karena itu, dengan mengingat kebesaran rohani Ahlulbait (para anggota keluarga Nabi), tak semestinya nampak aneh bahwa mereka me-ngetahui peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di waktu yang akan datang. Ibn Khaldûn menulis,
"Bila perbuatan ajaib dilaksanakan oleh orang lain, apa pikiran Anda tentang orang-orang yang terkenal dalam ilmu pengetahuan dan kejujuran dan merupakan cermin perilaku Nabi, sementara peitimbangan Allah bagi akar kemuliaan mereka (yakni Nabi) adalah suatu bukti tentang kinerja tinggi keturunannya yang suci (Ahlulbait). Sebagai akibatnya, banyak peristiwa mengenai pengetahuan tentang hal gaib berhubungan dengan Ahlulbait, yang tidak diriwayatkan tentang orang lain ...." (al-Muqaddimah, h. 23)
Dengan demikian tak ada alasan untuk heran atas pengakuan Amirul Mukminin, karena ia dibesarkan oleh Nabi dan merupakan murid sekolah Allah. Tentu saja, orang-orang yang pengetahuannya tidak melewati batas-batas obyektivitas fisik dan yang sarana pengetahuannya terbatas pada indera jasadi, menolak untuk percaya akan pengetahuan tentang jalan-jalan pengenalan ilahiah. Apabila pengakuan semacam ini unik dan hanya terdengar dari Amirul Mukminin maka pikiran mungkin goyah dan temperamen mungkin ragu-ragu menerimanya, tetapi apabila Al-Qur'an bahkan mencatat pengakuan 'lsa semacam itu, bahwa—"aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu"— maka mengapa harus ada keragu-raguan atas pengakuan Amirul Mukminin, bilamana diakui bahwa Amirul Mukminin telah berhasil menggapai keutamaan Nabi dan tak dapat dibantah bahwa Nabi mengetahui apa yang diketahui 'lsa. Jadi, apabila pelanjut Nabi mengajukan pengakuan semacatn itu, mengapa harus ditolak, khususnya karena luasnya pengetahuan Amirul Mukminin ini adalah bukti terbaik akan pengetahuan dan kesempurnaan Nabi dan sebagai mukjizat hidup tentang kejujuran beliau.
Sehubungan dengan ini, sangatlah mengherankan bahwa walaupun mempunyai pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa itu, Amirul Mukminin tidak menunjukkan, melalui kata-kata atau perbuatannya, bahwa ia mengetahuinya. Maka, dalam mengomentari teramat pentingnya pengakuan ini, Sayid Ibn Thâwûs menulis,
"Suatu aspek yang mencengangkan dari pengakuan ini ialah bahwa walaupun Amirul Mukminin mengetahui keadaan dan peristiwa-peristiwa, ia berlaku demikian rupa dengan perkataan dan perbuatannya sehingga orang yang melihatnya tidak menduga bahwa ia mengetahui rahasia-rahasia dan perbuatan orang lain yang tersembunyi, karena orang bijaksana sependapat bahwa apabila seseorang mengetahui peristiwa yang akan terjadi, atau langkah-langkah apa yang akan diambil sejawatnya, atau apabila rahasia-rahasia orang yang terpendam diketahuinya, maka efek-efek pengetahuan semacam itu akaii muncul melalui gerak-geriknya dan ekspresi wajahnya. Tetapi, orang yang mengetahui segala sesuatu tetapi berlaku seakan-akan ia tak tahu dan tak mengetahui apa-apa, maka kepribadiannya merupakan suatu keajaiban daa suatu kombinasi dari kontradiksi-kontradiksi."
Pada tahap ini timbul pertanyaan, mengapa Amirul Mukminin tidak bertindak menurut dikte pengetahuan rahasianya. Jawabannya ialah bahwa perintah-peiintah syariat didasarkan pada kondisi-kondisi lahiriah, sedang pengetahuan rahasia merupakan sejenis keajaiban dan kekuatan yang dikaruniakan Allah kepada para nabi dan imam-Nya. Walaupun para nabi dan imam mempunyai kekuatan itu, mereka tak dapat menggunakannya setiap saat kecuali dengan izin Allah, dan pada saat yang tepat. Misalnya, ayat yang dikutip di atas tentang 'lsa yang menunjukkan bahwa ia mempunyai kekuasaan untuk memberikan kehidupan, menyembuhkan orang buta dan menyatakan apa yang dimakan seseorang dan disimpan dalam rumahnya, dan sebagainya, 'lsa tidak menggunakan kekuasaan itu dalam praktik pada setiap sesuatu, pada setiap mayat atau pada setiap orang yang menemuinya. la hanya mempraktikkan kekuasaan ini dengan izin Allah dan pada saat yang tepat.
Apabila para nabi dan orang suci bertindak atas dasar pengetahuan rahasianya maka akan timbul kekacauan dan gangguan yang serius dalam urusan manusia. Misalnya, apabila seorang nabi atau wali, atas dasar pengetahuan rahasianya, menghukum orang yang berniat jahat dengan membunuhnya, akan timbul kegemparan dan goncangan besar di kalangan orang yang melihatnya sebagai pembunuhan atas orang yang tak bersalah. Itulah sebabnya maka Allah tidak mengizinkan pengambilan keputusan berdasarkan pengetahuan rahasia, kecuali dalam beberapa hal, dan memerintahkan untuk mengikuti faktor-faktor yang dapat di-amati. Maka, walaupun ia sadar akan niat keji beberapa orang munafik, Nabi mengulurkan kepada mereka perlakuan yang seharusnya diperlakukan kepada kaum Muslim.
Sekarang, tak akan ada ruang untuk keberatan bahwa apabila Amirul Mukminin mengetahui hal-hal rahasia lalu mengapa ia tidak bertindak sesuai dengan itu, karena telah ditunjukkan bahwa ia tidak mesti bertindak menurut tuntutan pengetahuan rahasianya. Tentu saja di mana keadaan memerlukan, ia mengungkapkan beberapa hal demi tujuan dakwah, nasihat, memberi kabar gembira dan peringatan, supaya peristiwa-peristiwa masa depan dapat dielakkan. Misalnya, Imam Ja'far ash-Shadiq (as) memberitahukan kepada Yahya ibn Zaid bahwa apabila ia keluar maka ia akan terbunuh. Ibn Khaldun tnenulis sehubungan dengan ini,
"Telah diriwayatkan secara sahih tentang Imam Ja'far ash-Shadiq, ia biasa memberitahukan kepada beberapa orang kerabatnya tentang hal-hal yang akan terjadi pada mereka. Misalnya, ia memperingatkan saudara sepupunya Yahya ibn Zaid bahwa ia akan dibunuh orang (bila ia keluar), tetapi Yahya tidak menaatinya dan keluar lalu dibunuh di Juzajan." (Al-Muqaddimah, h. 233)
Walaupun demikian, di mana ada kekhawatiran bahwa pikiran orang akan menjadi cemas, hal itu sama sekali tidak dibukakan. Itulah sebabnya dalam Khotbah ini Amirul Mukminin mengelakkan detail lebih lanjut, karena takut kalau-kalau rakyat menganggapnya lebih tinggi daripada Nabi. Walaupun demikian, orang tersesat juga tentang 'lsa dan demikian pula tentang Amirul Mukminin; mereka mulai mengatakan segala macam hal dan tersesat menempuh jalan berlebih-lebihan.

Monday, January 19, 2009

Bual-bual Kosong-


Selama saya tinggal di Syiria bertemu dengan Syeikh Abdul Qadir al-Arnauthi, salah seorang ulama Syiria. Dia mempunyai ijazah di dalam ilmu hadits.


Pertemuan ini berlangsung dengan tanpa persiap-an dari saya, melainkan terjadi dengan tanpa disengaja.


Saya mempunyai seorang teman dari Sudan yang bernama Adil. Saya mengenalnya di kawasan Sayyidah Zainab As, dan Allah Swt telah menerangi hatinya dengan cahaya Ahlul Bait As. Teman saya ini memiliki sifat-sifat terpuji yang jarang ditemukan pada yang lainnya. Dia seorang yang berakhlak, taat beragama dan warak. Keadaan telah memaksanya untuk bekerja di sebuah ladang di kawasan yang bernama “Adliyyah”, kurang lebih berjarak sembilan kilometer sebelah selatan kawasan Sayyidah Zainab As. Di sebelah ladang tempat dia bekerja terdapat ladang lain milik seorang laki-laki tua yang dipanggil dengan sebutan Abu Sulaiman.


Ketika tetangga ini tahu bahwa orang Sudan yang bekerja di ladang sebelahnya itu orang Syi’ah, dia datang dan berbicara kepadanya. Tetangga itu berkata,


“Wahai saudaraku, orang-orang Sudan itu orang Ahlus Sunnah yang baik, lantas dari mana kamu menjadi Syi’ah?! Apakah di keluargamu ada orang yang bermahzab Syi’ah?”


Adil menjawab, “Tidak, namun agama dan keyakinan tidak dibangun di atas dasar taklid kepada masyarakat dan keluarga.”


Tetangga itu berkata, “Sesungguhnya Syi’ah itu menipu dan membohongi masyarakat.”


Adil menjawab, “Saya tidak melihat yang demikian itu dari mereka.”


Tetangga itu berkata lagi, “Benar, kami mengenal mereka dengan baik.”


Adil berkata, “Wahai haji, apakah Anda percaya pada Bukhari dan Muslim dan kitab-kitab sahih yang enam?”


Tetangga itu berkata, “Tentu.”


Adil berkata lagi, “Sesungguhnya Syi’ah berargu-mentasi atas berbagai keyakinan yang mereka yakini dengan menggunakan sumber-sumber ini, apalagi sumber-sumber mereka.”


Tetangga itu berkata, “Mereka itu berdusta. Mereka mempunyai sahih Bukhari dan Muslim yang telah diselewengkan.”


Adil menjawab, “Mereka tidak mengharuskan saya dengan kitab tertentu, melainkan mereka meminta saya untuk mencarinya di perpustakaan menapun di dunia Arab.”


Tetangga itu berkata, “ini bohong, saya wajib mengembalikan Anda ke dalam Ahlus Sunnah. Karena Rasulullah Saw telah bersabda, ‘Jika Allah memberikan petunjuk kepada seorang laki-laki dengan perantaraanmu maka yang demikian itu lebih baik bagi-mu dibandingkan matahari bersinar kepadanya.’”


Adil berkata, “Kita ini pencari kebenaran dan petunjuk, kita akan condong bersama argumentasi ke mana pun argimentasi itu condong.”


Tetangga itu berkata, “Saya akan mendatangkan kepadamu ulama terbesar di kota Damaskus. Yaitu ‘Allamah Abdul Qadir al-Arnauthi, seorang ulama terpandang dan ahli hadits yang hafal Al-Qur’an. Orang-orang Syi’ah telah berusaha membujuknya dengan wang berjuta-juta supaya dia bersama mereka, namun dia menolaknya.”


Teman saya Adil menyetujui rencana ini. Abu Sulaiman berkata kepadanya, “janji kita pada hari Senin, Anda dan orang-orang Sudan lainnya yang terpengaruh pikiran Syi’ah silahkan datang.”


Adil datang kepada saya. Dia mengabarkan apa yang telah terjadi, dan meminta saya untuk pergi bersamanya. Dengan sangat senang saya menerima tawaran itu. Saya janji akan pergi bersamanya pada hari Senin tanggal 8 Safar 1417 Hijrah, tepat jam 12 siang.


Hari itu adalah hari yang sangat panas. Kami berkumpul di tempat yang telah dijanjikan, dan kemudian kami bertolak ke ladang bersama tiga orang Sudan lainnya. Setelah kami sampai, teman kami Adilm menyambut kami di ladang yang hijau yang dipenuhi dengan berbagai pohon buah-buahan, seperti murbaei, persik, apel, dan buah-buahan lainnya yang tidak terdapat di Negara kami Sudan.


Setelah itu kami pun tergesa-gesa menuju ladang tetangganya yang Ahlus Sunnah itu. Tetangga itu menyambut kami dengan kasar. Setelah beristirahat sejenak di tempat yang dikelilingi sayur-sayuran itu, saya berdiri untuk mengerjakan shalat Zuhur. Pada saat saya mengerjakan shalat Zuhur tibalah rom-bongan yang membawa Syeikh al-Arnauthi. Ruangan bangunan telah dipenuhi oleh manusia sementara ba-gian luarnya telah dipenuhi oleh mobil. Kebingungan melanda wajah teman-teman saya, dikarenakan kedu-dukan yang sedemikian tingginya. Karena mereka ti-dak mengira urusan ini sedemikian besarnya. Setelah masing-masing menempati tempatnya, saya memilih tempat di sebelah Syeikh.


Setelah berlangsung acara perkenalan di antara semua, pemilik ladang berkata pada Syeikh, “Mereka ini adalah saudara-saudara kita dari Sudan. Mereka telah terpengaruh Syi’ah di kawasan Sayyidah Zainab. Di antara mereka ada seorang Syi’ah yang bekerja di ladang sebelah kami.”


Syeikh itu berkata, “Mana yang Syi’ah itu?”


Mereka menjawab, “Pergi ke ladangnya, dan nanti akan kembali tidak lama lagi.”


Syeikh berkata, “Kalau begitu kita tunda pembicaraan ini hingga dia kembali.”


Salah seorang Sudan pergi mencarinya dan kemu-dian membawanya ke majlis. Syeikh memanfaatkan kesempatan ini untuk membacakan banyak hadits yang dia hafal di luar kepala. Adapun tema hadits-hadits yang dibacakannya itu ialah berkenaan dengan keutamaan sebagian negeri atas sebagian negeri yang lain, khususnya yang berkenaan dengan negeri Syiria dan kota Damaskus. Tema ini telah memakan waktu sekitar setengah jam. Sebuah tema yang tdak ada fai-dahnya. Saya sangat heran kenapa dia tidak meman-faatkan kesempatan ini, padahal semua yang hadir te-lah menajamkan pikiran mereka untuk mendengarkan hadits-hadits yang dapat mereka manfaatkan di dalam agama dan dunia mereka.


Kemudian dia berkata, “Sesungguhnya agama Allah tidak diambil berdasarkan nasab dan keturunan. Allah Swt telah menjadikan agamanya untuk semua manusia, lalu dengan hak apa kita mengambil agama dari Ahlul Bait?! Rasulullah Saw telah memerintahkan kita untuk berpegang teguh kepada Kitab Allah dan sunahnya. Hadits ini adalah hadits yang sahih yang tidak ada seorang pun yang mampu mendhaifkannya, dan tidak ada jalan lain selain jalan ini.”

Kemudian dia menepukkan tangannya kepunggung Adil sambil ber-kata kepadanya, “Wahai anakku, jangan sampai perkataan Syi’ah dapat menipumu.”


Saya memotong pembicarannya dengan mengatakan, “Yang mulia Syeikh, kami adalah pencari kebe-naran, dan kini perkara telah bercampur sedemikian rupa sehingga membingungkan kami, oleh karena itu kami dating kepada Anda supaya dapat mengambil manfaat dari Anda manakala kami mengetahui Anda seorang ulama besar, ahli hadits dan hafidz.”


Syeikh itu menjawab, “Itu benar.”


Saya berkata lagi, “Sudah merupaka sesuatu yang tidak diragukan lagi bahwa kaum Muslimin telah terbagi ke dalam beberapa golongan dan mahzab, dan masing-masing golongan mengklaim bahwa dirinyalah yang benar sementara yang lainnya salah. Apa yang harus saya lakukan sementara saya diwajibkan oleh agama Allah untuk mengetahui kebenaran diantara jalan-jalan yang saling bertentangan itu?! Apakah Allah menghendaki kita berpecah-belah atau mengingi-nkan kita berada pada satu agama, iaitu kita menyembah Allah dengan agama yang satu?! Jika ya, lantas jaminan apa yang telah ditinggalkan oleh Allah dan Rasul-Nya untuk kita supaya umat terjaga dari kesesatan?


Sebagaimana yang kita ketahui bahwa perselisihan pertama yang terjadi di antara kaum Muslimin adalah perselisihan yang terjadi secara langsung setelah Rasulullah Saw wafat, padahal Rasulullah Saw tidak mungkin meninggalkan umatnya tanpa ada petunjuk.”


Syeikh berkata, “Sesungguhnya jaminan yang telah ditinggalkan oleh Rasulullah Saw untuk mencegah umat dari perselisihan ialah sabdanya yang berbunyi, ‘Sesungguhnya aku tinggalkan sesuatu kepadamu yang jika kamu berpegang teguh kepadanya niscaya kamu tidak akan tersesat, yaitu Kitab Allah dan sunah.’”


Saya berkata, “Beberapa saat yang lalu Anda menyebutkan terkadang ada sebuah hadits yang yang tidak ada sumbernya, artinya tidak disebut di dalam kitab-kitab hadits.”


Syeikh menjawab, “Itu benar.”


Saya katakan kepadanya, “Hadits ini tidak memiliki sumber di dalam kitab-kitab sahih yang enam, lantas kenapa Anda menyebutkannya, sementara Anda seorang muhaddis?”


Di sini, bangkitlah kemarahan Syeikh, lalu dia berteriak lantang, “Apa yang Anda maksud, apakah Anda ingin mendhaifkan hadits ini?”


Saya merasa heran kenapa Syeikh sedemikian marah padahal saya tidak mengatakan apa-apa.


Saya berkata, “Sabar, sesungguhnya pertanyaan saya hanya satu, iaitu pakah hadits ini terdapat di dalam kitab sahih yang enam?”


Syeikh itu menjawab, “Kitab sahih itu tidak hanya enam. Kitab hadits itu banyak sekali. Hadits ini terdapat di dalam kitab al-Muwaththa Imam Malik.”


Saya berkata dengan menghadap kepada para hadirin, “Baik, Syeikh telah mengakui bahwa hadits ini tidak terdapat di dalam kitab-kitab sahih yang enam, dan hanya terdapat di dalam kitab al-Muwaththa Imam Malik.”


Dengan nada tinggi dia memotong pembicaraan saya dengan mengatakan, “Lalu, apakah kitab al-Mu-waththa bukan kitab hadits?”


Saya menjawab, “Kitab al-Muwaththa kitab hadits, namun hadits ‘Kitab Allah dan sunahku’ adalah marfu’ dengan tanpa sanad, padahal diketahui bahwa semua hadits yang terdapat di dalam kitab al-Muwaththa bersanad.”


Di sini Syeikh berteriak setelah hujjahnya patah. Dia mulai memukul saya dengan tangannya dan menggerak-gerakkan tubuh saya ke kanan dan ke kiri sambil berkata, “Anda ingin mendhaifkan hadits ini, padahal Anda ini siapa sehingga hendak mendhaif-kannya.” Dia tidak dapat mengontrol emosinya sehing-ga tindak-tanduknya telah keluar dari batas-batas ya-ng wajar. Seluruh orang yang hadir merasa heran dengan gerak dan tingkah lakunya.


Saya berkata, “Ya Syeikh, di sini tempat diskusi dan dalil, dan cara ini tidak layak untuk diikuti. Saya telah duduk dengan banyak ulama Syi’ah namun saya tidak pernah melihat sama sekali cara yang seerti ini.”


Allah Swt berfirman, ‘Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.’


Setelah itu, dia sedikit reda dari kemarahannya.Saya berkata, “Ya Syeikh, saya bertanya kepada Anda apakah riwayat Malik terhadap hadits ‘Kitab Allah dan sunahku’ di dalam kitab al-Muwaththa itu dhaif atau sahih?!”


Dengan penuh berat hati Syeikh menjawab, “Dhaif.”


Saya berkata, “Jika demikian, kenapa Anda mengatakan hadits tersebut ada di dalam kitab al-Muwaththa padahal Anda tahu hadits tersebut dhaif?”


Dengan nada tinggi Syeikh menjawab, “Sesungguhnya hadits tersebut mempunyai jalan-jalan yang lain.”


Saya berkata kepada orang-orang yang hadir, “Syeikh telah melepaskan riwayat al-Muwaththa, dan mengatakan bahwa hadits ini mempunyai jalan-jalan yang lain, maka marilah kita mendengarkan jalan-jalan itu darinya.”


Di sini Syeikh merasa malu, karena sebenarnya tidak ada jalan yang sahih yang dimiliki hadits ini. Pada saat itu tiba-tiba salah seorang hadirin yang duduk berbicara, lalu Syeikh menepuk saya dan berkata sambil menunjuk kepada orang yang berbicara, “Dengarkan dia.” Saya tahu dia ingin lari dari pertanyaan sulit yang saya lontarkan kepadanya. Saya merasakan itu darinya, namun saya tetap bersikeras dan berkata, “Ya Syeikh, sebutkanlah kepada kami jalan-jalan lain yang dimiliki hadits ini!”


Dengan nada putus asa Syeikh menjawab, “Saya tidak hafal, dan saya akan menuliskannya untuk Anda.”


Saya berkata, “Subhanallah! Anda hafal seluruh hadits-hadits ini, hadits-hadits tentang keutamaan negeri-negeri, namun tidak hafal jalan hadits terpenting yang merupakan pilar utama mahzab Ahlus Sunnah wal Jamaah, yang menjaga umat dari kesesatan, sebagaimana yang telah Anda katakan.”


Mendengar itu Syeikh terdiam seribu bahasa.Ketika para hadirin merasakan ras malu Syeikh, salah seorang dari mereka berkata kepada saya, “Apa yang Anda inginkan dari Syeikh, padahal Syeikh telah berjanji akan menuliskannya untuk Anda.”Saya berkata, “Saya akan coba dekatkan jalan untuk Anda. Sesungguhnya hadits ini juga terdapat di dalam kitab Sirah Ibnu Hisyam dengan tanpa sanad.”


Syeikh al-Arnauthi berkata, “Sirah Ibnu Hisyam adalah kitab sejarah, bukan kitab hadits.


Saya berkata, “Kalau begitu berarti Anda men-dhaifkan riwayat ini.”


Syeikh al-Arnauthi menjawab, “Ya.”


Saya berkata, “Anda telah membantu saya menyelesaikan diskusi ini.”


Kemudian saya meneruskan perkataan saya dengan mengatakan, “Hadits ini juga terdapat di dalam kitab al-Ilma’ karya Qadhi ‘Iyadh, dan kitab al-Faqih al-Mutafaqqih karya Khatib al-Bagdadi, apakah Anda mengambil riwayat-riwayat ini?”


Syeikh menjawab, “Tidak.”


Saya berkata, “Jika demikian, maka hadits ‘Kitab Allah dan sunahku’ itu dhaif menurut kesaksian Syeikh, dan tidak ada jaminan lain di hadapan kita kecuali satu jaminan yang akan mencegah umat dari perselisihan, iaitu hadits mutawatir dari Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh kitab-kitab hadits Ahlus Sunnah wal Jamaah dan kitab-kitab sahih yang enam selain Bukhari, yaitu sabda Rasulullah Saw yang berbunyi,

“Aku tinggalkan dua perkara yang sangat ber-harga, yang jika kamu berpegang teguh kepada keduanya niscaya kamu tidak akan tersesat sepeninggalku, iaitu Kitab Allah, yang merupakan tali yang terbentang di antara langit dan bumi, dan ‘Itrah Ahlul Baitku. Sesungguhnya Zat Yang Maha Mengetahui telah memberitahukanku bahwa keduanya tidak akan berpisah sehingga mendatangiku di telaga (al-Haudh).”


Sebagaimana yang terdapat di dalam riwayat Ahmad bin Hanbal. Tidak ada alternatif lain bagi seorang Mukmin yang menginginkan Islam sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah Swt dan Rasul-Nya selain dari jalan ini. iaitu jalan Ahlul Bait yang mereka telah disucikan di dalam al-Qur’an al-Karim dari segala dosa dan kotoran. Dan kemudian saya menyebutkan sekumpulan keutamaan-keutamaan Ahlul Bait As. Tidak sebagaimana biasanya, Syeikh terdiam tidak mengatakan satu patah kata pun selama saya berbicara.


Ketika murid-murid Syeikh melihat kekalahan di wajah gurunya mereka pun membuat kegaduhan dengan berteriak-teriak.Saya berkata, “Sungguh merupakan dajjal, kemunafikan dan penghindaran dari kebenaran. Sampai bila pengingkaran ini akan terus berlangsung?! Kebenaran jelas ayat-ayatnya, tampak kelihatan penjelasan-penjelasannya, dan saya telah menegakan hujjah atas Anda bahwa tidak ada agama selain dari Kitab Allah dan ‘Itrah Rasulullah Saw yang suci.”


Syeikh diam tidak membantah sedikit pun apa yang saya katakan. Tiba-tiba dia berdiri sambil berkata, “Saya ingin pergi, saya punya tugas mengajar”, padahal dia tahu bahwa dia diundang untuk makan siang!!


Tuan rumah memaksa dia untuk tetap tinggal, dan setelah makanan disajikan suasana majlis pun menjadi tenang, dan Syeikh tidak mengatakan sepatah kata apa pun selama menyantap makanan, padahal sebelumnya dia yang menguasai majlis dan pembicaraan.


Demikianlah nasib setiap orang yang menghindari dan menyembunyikan kebenaran. Mau tak mau pasti akan teringkap di hadapan orang banyak.