Sudut Kreatif

Friday, January 23, 2009

Tuhan itu Tiada!


Seorang pelanggan tiba di barber shop untuk memotong rambut dan merapikan brewoknya. Tak lama kemudian, si tukang cukur pun mulai memotong rambut pelanggannya. Tanpa maksud apapun, mulailah keduanya terlibat dalam suatu topik pembicaraan yang menghangatkan … !
Mereka membicarakan banyak hal yang gak karuan … entah kenapa … tiba-tiba topik pembicaraan itu beralih membicarakan tentang eksistensi Tuhan.
Tukang cukur berkata: “Saya tidak percaya kalau Tuhan itu ada.”

Pelanggan: “Kenapa kamu berkata begitu?!”, timpal si pelanggan yang kaget!

Tukang Cukur: “Begini … coba Anda perhatikan di depan sana, dijalanan …”, tukang cukur itu tiba-tiba terdiam. Seolah-olah dia sedang berpikir untuk menjelaskan dari mana dia harus memulai pembicaraannya sehingga bisa membuktikan bahwa Tuhan itu tidak ada.

Pelanggan: “Coba yakinkanlah diriku kalau Tuhan itu memang tidak ada.” Katanya.

Tukang Cukur: “jika Tuhan itu ada, adakah orang yang sakit? Akan adakah anak-anak yang terlantar? Jika Tuhan ada, maka otomatis tidak akan ada orang sakit ataupun kesusahan. Sungguh … saya tak bisa membayangkan bagaimana Tuhan Yang Maha Penyayang itu akan membiarkan semua hal ini terjadi.”


Demikianlah argumen-argumen pedas yang dilontarkan tukang cukur kepada si pelanggan.
Pelanggan itupun diam sejenak dan kata-kata itu benar-benar memiliki makna yang dalam baginya, apalagi tukang cukur itu sedang memegang pisau cukur yang tajam dan bersiap-siap untuk mencukur brewok yang tumbuh lebat di sekitar lehernya.


Demi menjaga konsentrasi tukang cukur, akhirnya pelanggan itu memutuskan untuk diam dan tidak meresponnya. Lagipula, tak ada pelanggan waras yang ingin membuat seorang tukang cukur skeptis marah dalam posisi seperti itu kan … ?

Walhasil pelanggan itu memutuskan untuk tidak berdebat dengannya.
Sejurus kemudian, tukang cukur itu akhirnya menyelesaikan pekerjaannya dengan senyuman dan pelanggan itupun pergi meninggalkan barber shop tersebut.

Akan tetapi, tak seberapa jauh setelah dia meninggalkan tempat itu … tiba-tiba pelanggan tadi melihat seseorang di jalanan dengan rambut yang panjang, berombak kasar, dekil dan brewok yang tidak dicukur. Orang itu benar-benar terlihat kotor dan tidak terawat.


Setelah menyaksikan orang tersebut, si pelanggan segera memutuskan untuk kembali ke barber shop tempat dia menyukur rambutnya.

Setibanya di sana, dia langsung berkata kepada si tukang cukur, “Kamu tahu gak? Sebenarnya TUKANG CUKUR itu tidak ada!” katanya.

Tukang cukur itu sangat kaget dan merasa terhina. Tukang cukur itu tidak terima ucapan si pelanggan, sementara dia sedang mencukur rambut pelanggan lain. Sembari sewaot,


tukang cukur itu berkata, “Apa kamu bilang? Kamu pikir saya tidak tahu cara mencukur yaa?! Kenapa kamu bisa bilang begitu? Ini barber shop saya, dan saya selalu ada di sini, dan saya adalah seorang tukang cukur. Bahkan bukankah saya baru mencukur rambutmu?!”


Demikian kata si tukang cukur yang kesal dengan perkataan pelanggan tadi.

Pelanggan: “Tidak! Tukang cukur itu tidak ada. Sebab jika tukang cukur itu ada, maka tidak akan ada orang yang rambutnya panjang, dekil dan brewok yang tak terurus seperti orang yang saya lihat di luar sana …”

Tukang cukur: “Ah tidak! Itu jelas bukan alasan! Karena faktanya, tukang cukur itu tetap ada!” Sanggahnya.


Lalu tukang cukur itu menambahkan lagi, “Apa yang kamu lihat itu adalah disebabkan kesalahan mereka sendiri … Kenapa mereka tidak datang saja ke saya” Jawab tukang cukur itu seraya membela diri.

Pelanggan: “Cocok!” kata si pelanggan menyetujui perkataan si tukang cukur.


Lalu pelanggan tadi menambahkan: “Itulah poin utamanya! Sama saja kasusnya dengan Tuhan, TUHAN ITU JUGA ADA! Tapi apa yang terjadi …? Manusia-lah yang tidak mau datang kepadaNya, dan tidak mau mencariNya. Oleh karena itu banyak manusia yang sakit dan tertimpa berbagai kesusahan di dunia ini.”

Tukang cukur tadi terbengong !!!

Semoga bermanfaat …

D Celah2 Christ Dan Budhism


Wahai manusia yang (lalai kepada Allah tetapi) tidak dilalaikan (Allah), dan orang-orang yang tidak (melakukan amal baik) tetapi akan tertangkap. Betapa maka saya melihat Anda menjadi tersingkir dari Allah dan tertarik pada yang lain-lain? Anda seperti unta yang digiring gembala ke padang rumput yang terlanda (wabah) penyakit dan tempat minum yang berbencana. Mereka seperti hewan yang diberi makan untuk disembelih, tetapi mereka tidak mengetahui apa yang diniatkan bagi mereka. Bilamana mereka diperlakukan dengan baik, mereka mengira bahwa hari itulah seluruh kehidupannya, dan makan kenyang adalah tujuannya. Demi Allah, apabila saya mau, saya dapat mengatakan kepada setiap orang dari Anda sekalian, ke mana ia akan pergi dan semua urusannya, tetapi saya takut kalau-kalau Anda meninggalkan Rasulullah (saw) dalam memihak kepada saya. Saya hanya akan menyampaikan hal-hal ini kepada orang-orang pilihan yang akan tetap aman dari yang saya takutkan itu. Demi Allah yang mengutus Nabi dengan hak dan mengistimewakannya atas ciptaan. Saya tidak mengatakan selain yang benar. Beliau memberitahukan kepada saya tentang semua ini dan juga tentang kematian setiap orang yang mati, penyelamatan setiap orang yang dikaruniai keselamatan, dan akibat dari urusan (kekhalifahan) ini. Beliau tidak meninggalkan sesuatu (yang dapat) melewati kepala saya tanpa memasukkannya ke dalam telinga saya dan mengatakan kepada saya tentang hal itu.[1]
Wahai manusia! Demi Allah, saya tidak menyuruh Anda untuk menaati sesuatu kecuali saya melaksanakannya sebelum Anda, dan saya tidak mencegah Anda terhadap suatu pelanggaran sebelum saya sendiri menolaknya. •


**********************************************************************************************************


[1] Orang yang meminum dari sumber wahyu dan ilham Ilahi melihat hal-hal di balik tirai gaib dan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di waktu yang akan datang, sama sebagaimana ia melihat obyek-obyek kasat mata, dan ini tidak bertentangan dengan firman Allah, "Katakanlah, 'Tiada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah ....'" (QS. 27:65)
Karena, ayat ini mengandung penyangkalan terhadap pengetahuan pribadi mengenai hal gaib, tetapi bukan penyangkalan terhadap pengetahuan yang diperoleh para nabi dan orang suci melalui ilham Ilahi, yang dengannya mereka meramalkan keadaan yang akan datang dan membuka tirai banyak peristiwa dan kejadian. Beberapa ayat Al-Qur'an mendukung hal ini, di antaranya seperti berikut,
"Dan ketika Nabi membicarakan secara rahasia kepada salah seorang dari istri-istrinya (Hafsah) suatu peristiwa. "Maka tatkala (Hafsah) menceritakan peristiwa itu (kepada 'A'isyah), dan Allah memberitahukan hal itu (yakni, semua pembicaraan antara Hafsah dan 'A'isyah) kepada Muhammad, dan Muhammad memberitahukan sebagian (yang diberitakan Allah kepadanya) dan menyembunyikan sebagian yang lain (kepada Hafsah). Maka tatkala (Muhammad) memberitahukan pembicaraan (antara Hafsah dan 'A'isyah) lalu ia (Hafsah) bertanya, 'Siapakah yang telah memberitahukan hal itu kepadamu?" Nabi menjawab, 'Telah diberitahukan kepadaku oleh Allah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal'." (QS. 66:3)
"Itu adalah di antara berita-berita penting tentang yang gaib yang Kamiwahyukan kepadamu (Muhammad)...." (QS. 11:49)
Karena itu, tidaklah tepat mengajukan argumen yang mendukung pandangan bahwa apabila dikatakan bahwa para nabi dan orang-orang suci memiliki pengetahuan tentang alam gaib maka hal itu akan mengandung makna ganda dalam sifat-sifat Tuhan. Akan bermakna ganda (dualitas) apabila dikatakan bahwa seseorang selain Allah mempunyai pengetahuan pribadi tentang hal-hal gaib. Bilamana tidak demikian, yakni bila pengetahuan yang dimiliki para nabi dan imam ialah pengetahuan yang diberikan Allah, maka hal itu tak ada kaitannya dengan dualitas. Apabila dualitas berarti apa yang disangkakan itu, bagaimana kedudukan penegasan 'lsa dalam Al-Qur'an, yakni,
"... Aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung, kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; dan aku menyembuhkan orang yang buta sejak dari lahimya dan orang yang berpenyakit sopak; dan aku menghidupkan orang mati dengan seizin Allah dan aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu ...." (QS. 3:49)
Apabila 'lsa dapat menciptakan dan memberikan kehidupan dengan izin Allah, apakah itu berarti bahwa ia sekutu Allah dalam sifat mencipta dan menghidupkan kembali? Apabila tidak demikian maka mengapa bila Allah memberikan kepada seseorang pengetahuan tentang yang gaib lalu hal itu dianggap mengandung makna bahwa la telah mengambilnya sebagai sekutu-Nya dalam sifat-sifat-Nya?
Dan bagaimana kita dapat memuji keimanan seseorang akan keesaan Allah bila ia menganggap bahwa pengetahuan tentang yang gaib mengandung makna dualitas.
Tak dapat disangkal bahwa sebagian orang melihat dalam mimpi hal-hal tertentu di masa depan yang belum terjadi, atau bahwa hal-hal dapat dibaca melalui takwil mimpi, padahal ketika tidur indera seseorang tidak berfungsi dan daya pengertian dan pemahaman tidak bekerjasama. Maka, apabila beberapa peristiwa diketahui oleh sebagian orang dalam waktu jaga, kiia tak harus kaget dan heran atasnya, dan tak ada alasan untuk menolaknya; bilamana hal itu mungkin dalam impian maka itu pun mungkin dalam keadaan jaga. Ibn Maitsam al-Bahrani menulis bahwa mungkinlah mencapai semua ini, karena dalam mimpi ruh menjadi bebas dari mengurusi jasad dan terlepas dari hubungan jasadi; sebagai hasilnya, ruh melihat kebenaran-kebenaran tersembunyi yang tak dapat dilihat karena gangguan jasad. Sama seperti itu, hamba-hamba yang sempurna yang tidak mempedulikan hal-hal jasadi, dan berpaling dengan seluruh perhatian ruh dan hati kepada pusat pengetahuan, dapat melihat realitas dan rahasia-rahasia yang tak dapat dilihat mata biasa. Karena itu, dengan mengingat kebesaran rohani Ahlulbait (para anggota keluarga Nabi), tak semestinya nampak aneh bahwa mereka me-ngetahui peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di waktu yang akan datang. Ibn Khaldûn menulis,
"Bila perbuatan ajaib dilaksanakan oleh orang lain, apa pikiran Anda tentang orang-orang yang terkenal dalam ilmu pengetahuan dan kejujuran dan merupakan cermin perilaku Nabi, sementara peitimbangan Allah bagi akar kemuliaan mereka (yakni Nabi) adalah suatu bukti tentang kinerja tinggi keturunannya yang suci (Ahlulbait). Sebagai akibatnya, banyak peristiwa mengenai pengetahuan tentang hal gaib berhubungan dengan Ahlulbait, yang tidak diriwayatkan tentang orang lain ...." (al-Muqaddimah, h. 23)
Dengan demikian tak ada alasan untuk heran atas pengakuan Amirul Mukminin, karena ia dibesarkan oleh Nabi dan merupakan murid sekolah Allah. Tentu saja, orang-orang yang pengetahuannya tidak melewati batas-batas obyektivitas fisik dan yang sarana pengetahuannya terbatas pada indera jasadi, menolak untuk percaya akan pengetahuan tentang jalan-jalan pengenalan ilahiah. Apabila pengakuan semacam ini unik dan hanya terdengar dari Amirul Mukminin maka pikiran mungkin goyah dan temperamen mungkin ragu-ragu menerimanya, tetapi apabila Al-Qur'an bahkan mencatat pengakuan 'lsa semacam itu, bahwa—"aku kabarkan kepadamu apa yang kamu makan dan apa yang kamu simpan di rumahmu"— maka mengapa harus ada keragu-raguan atas pengakuan Amirul Mukminin, bilamana diakui bahwa Amirul Mukminin telah berhasil menggapai keutamaan Nabi dan tak dapat dibantah bahwa Nabi mengetahui apa yang diketahui 'lsa. Jadi, apabila pelanjut Nabi mengajukan pengakuan semacatn itu, mengapa harus ditolak, khususnya karena luasnya pengetahuan Amirul Mukminin ini adalah bukti terbaik akan pengetahuan dan kesempurnaan Nabi dan sebagai mukjizat hidup tentang kejujuran beliau.
Sehubungan dengan ini, sangatlah mengherankan bahwa walaupun mempunyai pengetahuan tentang peristiwa-peristiwa itu, Amirul Mukminin tidak menunjukkan, melalui kata-kata atau perbuatannya, bahwa ia mengetahuinya. Maka, dalam mengomentari teramat pentingnya pengakuan ini, Sayid Ibn Thâwûs menulis,
"Suatu aspek yang mencengangkan dari pengakuan ini ialah bahwa walaupun Amirul Mukminin mengetahui keadaan dan peristiwa-peristiwa, ia berlaku demikian rupa dengan perkataan dan perbuatannya sehingga orang yang melihatnya tidak menduga bahwa ia mengetahui rahasia-rahasia dan perbuatan orang lain yang tersembunyi, karena orang bijaksana sependapat bahwa apabila seseorang mengetahui peristiwa yang akan terjadi, atau langkah-langkah apa yang akan diambil sejawatnya, atau apabila rahasia-rahasia orang yang terpendam diketahuinya, maka efek-efek pengetahuan semacam itu akaii muncul melalui gerak-geriknya dan ekspresi wajahnya. Tetapi, orang yang mengetahui segala sesuatu tetapi berlaku seakan-akan ia tak tahu dan tak mengetahui apa-apa, maka kepribadiannya merupakan suatu keajaiban daa suatu kombinasi dari kontradiksi-kontradiksi."
Pada tahap ini timbul pertanyaan, mengapa Amirul Mukminin tidak bertindak menurut dikte pengetahuan rahasianya. Jawabannya ialah bahwa perintah-peiintah syariat didasarkan pada kondisi-kondisi lahiriah, sedang pengetahuan rahasia merupakan sejenis keajaiban dan kekuatan yang dikaruniakan Allah kepada para nabi dan imam-Nya. Walaupun para nabi dan imam mempunyai kekuatan itu, mereka tak dapat menggunakannya setiap saat kecuali dengan izin Allah, dan pada saat yang tepat. Misalnya, ayat yang dikutip di atas tentang 'lsa yang menunjukkan bahwa ia mempunyai kekuasaan untuk memberikan kehidupan, menyembuhkan orang buta dan menyatakan apa yang dimakan seseorang dan disimpan dalam rumahnya, dan sebagainya, 'lsa tidak menggunakan kekuasaan itu dalam praktik pada setiap sesuatu, pada setiap mayat atau pada setiap orang yang menemuinya. la hanya mempraktikkan kekuasaan ini dengan izin Allah dan pada saat yang tepat.
Apabila para nabi dan orang suci bertindak atas dasar pengetahuan rahasianya maka akan timbul kekacauan dan gangguan yang serius dalam urusan manusia. Misalnya, apabila seorang nabi atau wali, atas dasar pengetahuan rahasianya, menghukum orang yang berniat jahat dengan membunuhnya, akan timbul kegemparan dan goncangan besar di kalangan orang yang melihatnya sebagai pembunuhan atas orang yang tak bersalah. Itulah sebabnya maka Allah tidak mengizinkan pengambilan keputusan berdasarkan pengetahuan rahasia, kecuali dalam beberapa hal, dan memerintahkan untuk mengikuti faktor-faktor yang dapat di-amati. Maka, walaupun ia sadar akan niat keji beberapa orang munafik, Nabi mengulurkan kepada mereka perlakuan yang seharusnya diperlakukan kepada kaum Muslim.
Sekarang, tak akan ada ruang untuk keberatan bahwa apabila Amirul Mukminin mengetahui hal-hal rahasia lalu mengapa ia tidak bertindak sesuai dengan itu, karena telah ditunjukkan bahwa ia tidak mesti bertindak menurut tuntutan pengetahuan rahasianya. Tentu saja di mana keadaan memerlukan, ia mengungkapkan beberapa hal demi tujuan dakwah, nasihat, memberi kabar gembira dan peringatan, supaya peristiwa-peristiwa masa depan dapat dielakkan. Misalnya, Imam Ja'far ash-Shadiq (as) memberitahukan kepada Yahya ibn Zaid bahwa apabila ia keluar maka ia akan terbunuh. Ibn Khaldun tnenulis sehubungan dengan ini,
"Telah diriwayatkan secara sahih tentang Imam Ja'far ash-Shadiq, ia biasa memberitahukan kepada beberapa orang kerabatnya tentang hal-hal yang akan terjadi pada mereka. Misalnya, ia memperingatkan saudara sepupunya Yahya ibn Zaid bahwa ia akan dibunuh orang (bila ia keluar), tetapi Yahya tidak menaatinya dan keluar lalu dibunuh di Juzajan." (Al-Muqaddimah, h. 233)
Walaupun demikian, di mana ada kekhawatiran bahwa pikiran orang akan menjadi cemas, hal itu sama sekali tidak dibukakan. Itulah sebabnya dalam Khotbah ini Amirul Mukminin mengelakkan detail lebih lanjut, karena takut kalau-kalau rakyat menganggapnya lebih tinggi daripada Nabi. Walaupun demikian, orang tersesat juga tentang 'lsa dan demikian pula tentang Amirul Mukminin; mereka mulai mengatakan segala macam hal dan tersesat menempuh jalan berlebih-lebihan.